A Learner's Journal
  • HOME
  • GENERAL
  • REFLEKSI
  • CERITA SAYA
  • CATATAN
  • BICARA LINGKUNGAN
  • ABOUT ME

Saya termasuk orang yang sangat jarang mengunggah foto makanan atau aktivitas makan bersama. Jikapun ada foto yang tersimpan di galeri, hampir bisa dipastikan tidak akan pernah saya publikasikan di sosial media. Mungkin ada, tapi akan sangat jarang dan lebih banyak di platform lainnya yang menurut saya lebih pas saja. Bukan karena saya tidak menghargai momen makan atau tidak peduli dengan foto-foto makanan yang ciamik itu, melainkan karena ada cerita panjang di balik setiap piring yang pernah hadir dalam hidup saya.

Dulu, saya pernah berada di fase hidup yang sulit. Membeli makanan bukan sekadar soal selera, melainkan soal perhitungan yang penuh pertimbangan. Mode bertahan hidup benar-benar teraktivasi. Saya memilih makanan bukan dari rasanya, bukan dari tampilannya, melainkan dari harganya. Mata saya selalu perlu lebih dulu mencari angka, sesaat kemudian barulah menimbang menunya. Setiap rupiah terasa seperti keputusan besar, dan setiap suapan adalah hasil dari perjuangan panjang. Tentu saja, tidak semua orang seperti ini.

Itulah sebabnya, ketika melihat orang lain memosting foto makanan mereka, makanan yang tampak lezat, penuh warna, dan menggoda, saya sering merasa seolah ada jarak yang tak terlihat. Normalnya manusia, saya tentu ingin mencicipinya juga. Saya ingin tahu rasanya. Namun kenyataannya, saya tidak bisa. Yang tersisa hanyalah bayangan. Bayangan makanan yang hadir begitu nyata, tapi tak pernah benar-benar bisa dicicipi. Foto makanan memang punya daya. Ia membuat orang ingin. Tetapi bagi sebagian orang, foto itu juga bisa menjadi pengingat akan keterbatasan. Ada rasa sesak yang muncul ketika keinginan tidak bisa diwujudkan.

Tak hanya itu, saya juga menyadari bahwa bukan hanya saya yang merasakan hal itu. Di luar sana, ada bejibun nyawa yang tengah kelaparan dan berjuang bertahan hidup. Ada yang sedang berjuang keras untuk sekadar makan sekali sehari. Ada yang bahkan harus menahan lapar karena tidak ada pilihan lain. Bagi mereka, foto makanan bisa menjadi luka kecil yang tak terlihat, mengingatkan pada jurang antara keinginan dan kenyataan. Karena itu, saya memilih untuk tidak/mengurangi memosting foto makanan di sosial media. Saya belum sepenuhnya menerapkan ini, karena beberapa kali masih melakukannya juga. Masih dalam proses belajar.

Saya tidak mempermasalahkan orang lain yang melakukannya. Setiap punya hak masing-masing, dan saya yakin tidak tidak terselip sedikit pun niat buruk di balik itu. Mereka punya tujuan jelas yang masuk akal, entah untuk keperluan bisnis, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih, menyimpan memori, menghibur diri mereka atau hanya sekadar ingin berbagi kebahagiaan sederhana. Namun, bagi saya pribadi, jika ada pilihan untuk tidak melakukannya, yaa kenapa tidak? Ini perihal pilihan dan nilai yang kita genggam.

Kita mungkin ingin berbagi makanan yang gambarnya kita post tersebut, misalnya melalui story WhatsApp, dengan orang terdekat kita tetapi tidak semua situasi dan kondisi mendukung. Bisa jadi, kita dipisahkan oleh bentangan jarak yang panjang, waktu-waktu yang terbatas untuk menyambangi, atau kita hanya memiliki makanan yang bahkan mungkin untuk kita sendiri pun masih kurang, dan kondisi lainnya. Kondisi seperti ini bisa menimbulkan rasa yang berlapis. Antara keinginan untuk berbagi kebahagiaan dan kesadaran bahwa ada keterbatasan yang nyata. Parahnya, mungkin ini akan berujung pada kita yang seolah menzalimi orang lain.

Bagi saya, makanan bukan sekadar objek visual. Makanan adalah simbol perjalanan, simbol perjuangan, simbol syukur. Setiap piring yang kini bisa saya nikmati dengan lebih tenang adalah tanda bahwa saya pernah melewati masa di mana makan makanan tertentu sesuai keinginan saya adalah kemewahan. Dan saya ingin menghormati makna itu dengan cara saya sendiri.

Ketika saya ingin, artinya saya harus memastikan bahwa apa yang saya bagikan tidak "melukai" banyak orang. Ada banyak hal yang perlu dikurasi. Timing dan platform pun harus diperhatikan.

Memang, lagi-lagi kita tak bisa bertanggung jawab sepenuhnya dengan orang lain. Tapi, untuk beberapa hal, jika ada hal yang bisa kita kurangi, yaa kenapa tidak?.

Dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah bisa menghindari luka kecil maupun kekecewaan besar. Ada rencana yang sudah disusun dengan penuh harapan, namun runtuh seketika tanpa alasan yang jelas. Ada janji yang diucapkan dengan manis, tetapi kemudian diingkari seolah kata-kata tak lagi punya makna. Ada pekerjaan yang kita kerjakan dengan sepenuh hati, namun hasilnya jauh dari bayangan indah yang kita impikan. Bahkan, ada orang yang kita percayai sepenuh jiwa, justru menjadi sumber kekecewaan yang paling dalam. Semua itu bukanlah pengecualian, melainkan bagian dari ritme kehidupan yang setiap manusia pasti temui.


Saat hal-hal itu terjadi, wajar bila hati kita bergolak marah, kecewa, atau merasa dikhianati. Itu adalah reaksi normal karena kita manusia. Bukan nabi boy!!! Namun, yang menentukan kualitas hidup kita bukanlah perasaan sesaat itu, melainkan bagaimana kita memilih untuk merespons setelahnya. Apakah kita memilih berlapang dada, atau justru terjebak dalam kebiasaan menyalahkan orang lain? Menyalahkan memang terasa lebih mudah. Seakan kita selalu berada di pihak yang benar, sementara orang lain menjadi kambing hitam. Tetapi kebiasaan ini, bila terus dipelihara, ibarat api kecil yang perlahan membakar jembatan kepercayaan, hingga akhirnya memutuskan hubungan dan menutup ruang bagi introspeksi.

Menyalahkan orang lain adalah racun yang tak terlihat, namun bekerja diam-diam. Ia menggerogoti rasa hormat, mematikan komunikasi, dan mengikis empati. Padahal, sering kali akar masalah bukan hanya terletak pada orang lain, melainkan juga pada diri kita sendiri, misalnya bagaimana cara kita berkomunikai. Tanpa keberanian untuk bercermin, kita akan terus mengulang kesalahan yang sama, seolah berjalan dalam lingkaran yang tak berujung.

Lebih jauh lagi, kebiasaan menyalahkan membuat kita kehilangan kemampuan untuk melihat manusia lain sebagai pribadi yang juga rapuh dan terbatas. Kita terbiasa membesar-besarkan kesalahan orang lain, sementara menutup mata terhadap kekurangan diri sendiri. Kita lupa bahwa kegagalan sering kali lahir dari banyak faktor yang saling terkait, bukan hanya dari satu pihak. Dengan cara pandang yang sempit, kita menutup pintu bagi empati, dan pada akhirnya menutup pintu bagi pertumbuhan.

Sebaliknya, ketika kita berhenti menyalahkan dan mulai memahami, kita membuka ruang yang luas bagi perubahan. Orang lain merasa dihargai, didengar, dan dirangkul. Hubungan menjadi lebih kuat, tim lebih solid, sahabat lebih setia. Bahkan, kita sendiri akan merasakan ketenangan batin, karena tidak lagi terbebani oleh energi negatif yang lahir dari kebiasaan menyalahkan. Memahami bukan berarti membenarkan semua kesalahan, melainkan melihat kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Dengan cara ini, setiap kekecewaan atau kegagalan berubah menjadi guru, dan setiap masalah menjadi pintu menuju kedewasaan.

Menyalahkan mungkin memberi kelegaan sesaat, tetapi tidak pernah menyelesaikan masalah. Justru introspeksi, komunikasi yang jujur, dan empati adalah kunci untuk tumbuh bersama. Hidup bukanlah tentang mencari siapa yang salah, melainkan bagaimana kita belajar dari setiap luka, setiap kegagalan, dan setiap kekecewaan agar kita menjadi manusia yang lebih bijak.

Lebih dari itu, kekecewaan sering kali juga membuat kita tergoda untuk berburuk sangka. Kita mudah menafsirkan kesalahan orang lain sebagai niat jahat yang disengaja. Padahal, berburuk sangka juga adalah jebakan halus yang merusak hati. Ia membuat kita melihat dunia dengan kaca mata keruh, sehingga setiap tindakan orang lain tampak salah, setiap kata terasa menyakitkan, dan setiap perbedaan dianggap ancaman. Berburuk sangka bukan hanya melukai orang lain, tetapi juga melukai diri sendiri, karena hati yang dipenuhi prasangka akan sulit merasakan ketenangan. 

Sebaliknya, ketika kita memilih untuk tidak berburuk sangka, kita memberi ruang bagi pengertian. Kita belajar melihat bahwa mungkin orang lain sedang berjuang dengan keterbatasannya, atau bahwa kegagalan terjadi bukan karena niat buruk, melainkan karena kondisi yang tidak selalu bisa dikendalikan.

Tidak berburuk sangka adalah bentuk kebijaksanaan. Ia mengajarkan kita untuk menunda penilaian, memberi kesempatan bagi orang lain untuk menjelaskan, dan membuka hati untuk memahami. Dengan sikap ini, hubungan menjadi lebih hangat, kerja sama lebih kokoh, dan persahabatan lebih tulus. Bahkan, kita sendiri akan merasa lebih ringan, karena tidak lagi terbebani oleh pikiran negatif yang hanya melemahkan semangat.

Pada akhirnya, menyalahkan orang lain maupun berburuk sangka mungkin memberi kelegaan sesaat, tetapi tidak pernah menyelesaikan masalah. Justru introspeksi, komunikasi yang jujur, dan empati adalah kunci untuk tumbuh bersama. Hidup bukanlah tentang mencari siapa yang salah, melainkan bagaimana kita belajar dari setiap luka dan setiap kekecewaan, agar kita menjadi manusia yang lebih bijak.

Meski begitu, tetap harus kita pahami bahwa "memahami" bukanlah hal yang seharusnya menjadikan kita untuk selalu "mengalah" bahkan di saat kita memang tak bersalah.  Memahami ini lebih pada mengambil jeda untuk berpikir lebih jernih agar respons dan tindakan yang diambil benar-benar bijak.

-----

Jadi, apakah sudah siap belajar "memahami" bersamaku? Beritahu aku kalau kamu sedang tak sibuk😎.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar siap kehilangan. Kita boleh merencanakan banyak hal dalam hidup. Sebut saja pendidikan, karier, perjalanan, bahkan masa depan. Namun, kehilangan selalu datang sebagai sesuatu yang tak pernah masuk daftar rencana. Ia hadir diam-diam, mengetuk kesadaran kita dengan cara yang sering kali menyakitkan. Tak ada manusia yang menginginkan kehilangan orang-orang tercinta. Aku pun tidak. Namun hidup tidak selalu menunggu kesiapan kita.

Sejak lulus SD, aku telah belajar hidup jauh dari keluarga. Merantau, bertumbuh sendiri, dan belajar berdiri di atas kaki sendiri di tempat yang tak pernah benar-benar bisa kusebut rumah. Dari kejauhan itu, aku banyak belajar tentang kemandirian, tentang ketahanan, tentang bagaimana menata hidup tanpa bergantung pada siapa pun. Tetapi jarak juga mengajarkanku pelajaran lain yang jauh lebih sunyi. Pelajaran bahwa kebersamaan adalah sesuatu yang rapuh, dan waktu bersama keluarga tidak pernah bisa dijamin.

Hidup berjauhan membuatku akrab dan harus siap dengan segala kemungkinan terburuk. Setiap kali berpamitan, aku selalu menyimpan satu kesadaran di sudut hatiku. Kesadaran bahwa bisa saja ini adalah pertemuan terakhir. Bukan karena aku ingin hidup dalam ketakutan, melainkan karena aku ingin menghormati setiap detik kebersamaan. Karena itulah, setiap kali kendaraan bergerak menjauh dari rumah, air mataku selalu tumpah. Tangis yang tak pernah kutunjukkan di hadapan mereka yang kutinggalkan. Tangis yang kugenggam sendirian agar kepergianku tak meninggalkan luka tambahan.

Ironisnya, semakin sering pergi, bukan berarti aku menjadi kebal. Justru sebaliknya. Rasa itu tetap sama. Perihnya tak berkurang. Setiap perpisahan selalu terasa seperti yang pertama.

Aku telah menerima banyak kabar duka dari kejauhan. Kakek dan Nenek berpulang satu per satu tanpa sempat kusaksikan pemakaman mereka. Ada yang bercanda menyebutku cucu durhaka. Cucu yang tak pernah hadir. Aku hanya tersenyum, karena aku tahu bahwa tidak semua ketidakhadiran lahir dari ketidakpedulian. Ada keadaan yang memaksa kita memilih, dan tak semua pilihan terasa adil.

Sejak saat itu, rasa takut kehilangan tinggal lebih lama dalam diriku. Setiap telepon di jam-jam tak wajar selalu membuat dadaku berdebar. Setiap pesan yang datang tiba-tiba membuat pikiranku berlari ke berbagai kemungkinan. Dari sanalah aku memahami satu hal dengan jujur. Memang tak diragukan lagi manusia tak pernah benar-benar siap kehilangan. Yang bisa kita lakukan hanyalah belajar menerima, pelan-pelan, dengan hati yang terus dilatih.

Pulang sebagai Sebuah Kesadaran

Di usia yang semakin dewasa, aku mulai mempertanyakan banyak hal. Untuk apa sebenarnya semua perjalanan jauh ini? Untuk siapa semua pencapaian itu? Di titik itulah aku sampai pada satu kerinduan untuk selalu "pulang". Bukan hanya pulang secara fisik, tetapi pulang dengan kesadaran penuh. Hadir, menyimak, dan membersamai.

Resolusi 2025 lahir dari sana. Aku ingin meluangkan lebih banyak waktu untuk keluarga. Aku ingin mendekat, bukan lagi sekadar menanyakan kabar lewat telepon. Bahkan, aku menolak tawaran pekerjaan yang mengharuskanku kembali pergi jauh. Aku memilih bertahan di Kota Palu. Meski sebenarnya masih cukup jauh dari rumah. Tetapi inilah pilihan terbaik saat ini. Pilihan yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi bagiku sarat makna. Untuk pertama kalinya, aku memilih kedekatan daripada ambisi.

Aku percaya, niat baik tidak pernah sia-sia. Dan Tuhan, dengan cara-Nya menjawab niat itu, ingin pulang membersamai keluarga, meski melalui jalan yang tak pernah kubayangkan.

Telepon itu datang di jam yang sunyi. Suara adikku terdengar memintaku pulang. Awalnya terdengar tenang, lalu pecah oleh tangis. Mama memintaku pulang. Kondisinya tidak sedang baik-baik saja.

Di saat itu, aku tahu bahwa ini adalah panggilan pulang yang tak bisa kutolak.

Hari-hari yang Menguji

Perjalanan pulang terasa panjang. Rumah dipenuhi orang. Aku memeluk Bapak, dan untuk pertama kalinya, aku membiarkan diriku menangis di hadapan orang lain. Aku lalu menemui Mama yang sedang terbaring karena sakit keras.

Hari-hari berikutnya adalah rangkaian keputusan berat, perjalanan panjang, dan rasa lelah yang sering kali melampaui batas fisik. Ada masa ketika aku benar-benar kehabisan tenaga dan harapan. Ada momen ketika doa yang keluar dari bibirku bukan lagi permintaan, melainkan kepasrahan “Tuhan, apapun takdir-Mu, aku ikhlas.”

Namun justru di titik paling pasrah itu, aku belajar bahwa harapan memiliki banyak wajah. Ia tidak selalu datang sebagai keajaiban besar. Kadang ia hadir sebagai keputusan kecil untuk mencoba sekali lagi. Berusaha lagi berobat ke dokter yang lain. Menemukan obat lainnya yang  cocok. 

Aku menyaksikan sendiri bagaimana Mama perlahan membaik. Tidak instan. Tidak sempurna. Tapi cukup untuk menyalakan harapan.

Bentuk cinta yang paling hening

Aku mengambil alih semua urusan domestik di rumah. Mencuci pakaian, memasak, membersihkan rumah. Aktivitas yang dulu tak pernah kupikirkan sebagai sesuatu yang istimewa. Kini, semua itu menjadi ruang kontemplasi. Di sana aku belajar bahwa merawat bukan sekadar tugas, melainkan bentuk cinta yang paling hening dan tulus.

Aku harus resign dari perkerjaan. Banyak rencana pribadi kubatalkan. Bukan karena aku menyerah pada hidup, tetapi karena aku memilih untuk hadir sepenuhnya di fase ini. 

Lelah? Iya, sangat melelahkan. Namun, justru aku merasa pulang pada diriku sendiri.

Waktu yang Mengubah Cara Pandang

Empat bulan kuhabiskan di rumah. Waktu ini adalah waktu terlama yang pernah kumiliki dalam hampir sepuluh tahun terakhir. Aku menyaksikan dinamika keluarga secara lebih dekat. Aku jadi memahami bahwa keadaan "rumah" tidak selalu stabil, namun selalu menyediakan ruang untuk kembali. Aku belajar bahwa kebersamaan tidak harus sempurna untuk menjadi bermakna.

Kini, aku melihat hidup dengan cara yang berbeda. 

Kehilangan masih menakutkan, tetapi ia tak lagi hanya soal ketakutan. Ia juga tentang kesadaran. Tentang menghargai pertemuan, sekecil apa pun. Tentang hadir sepenuh hati selagi waktu masih diberikan.

Optimisme yang kupelajari bukanlah keyakinan bahwa hidup akan selalu mudah. Melainkan kepercayaan bahwa apa pun yang terjadi, kita akan mampu menjalaninya selama kita mau mencintai dengan sadar dan hadir dengan utuh.

Semoga Allah panjangkan umur kita semua.

Dan semoga kita selalu diberi cukup waktu untuk benar-benar hadir bagi mereka yang kita cintai.

-----

Palu, 28 Desember 2025 (Pukul 04.03 WITA)

Ditulis karna ga bisa tidur setelah minum a cup of Kopi Susu Gula Aren dari Sepertiga by BRKH - Kopinya diminum pukul 23.00s.

Keberanian bukanlah tentang menghilangkan rasa takut. Tapi keberanian adalah ketika kita tetap melangkah, meski hati penuh keraguan, meski setiap kemungkinan tampak tak menentu. Ketakutan bukan musuh, melainkan teman seperjalanan yang diam-diam mengingatkan bahwa langkah ini penting.

Bahwa cahaya yang kita cari kadang tidak datang dari luar, tetapi dari keyakinan kecil yang tumbuh perlahan dalam diri: bahwa tidak apa-apa jika kita belum tahu hasil akhirnya — yang penting kita tetap bergerak.

Hidup tidak meminta kita untuk selalu yakin, tapi untuk selalu jujur — pada diri sendiri, pada jalan yang kita pilih, dan pada proses yang harus kita lewati. Bahkan, ketika kita memilih untuk terus melangkah meski tidak ada tepuk tangan, itulah saat kita benar-benar tumbuh.

Pertemuanmu dengannya di jalan waktu itu, bukanlah kesalahan. Waktu pertemuannya saja yang kurang tepat.


Karena dalam perjalanan;

 Di tengah jalan, kamu tak perlu (selalu)sibuk menunggu. Karena, ada kalanya dia yang selama ini kamu tunggu mungkin memang tak ingin ditunggu (lagi). Kamu saja yang tidak menyadarinya.


Atau, dia terlanjur lupa kalau di ujung sana ada kamu yang dengan sabar menunggu.

Atau, dia telah berbalik arah karena menyadari bahwa menemuimu di persinggahan itu bukanlah pilihan terbaik.

Silahkan terus berjalan agar kamu segera sampai pada tujuanmu. 

Jangan sampai kamu kecewa menunggu terlalu lama tanpa berujung pertemuan.

Hati-hati di jalan!

Mungkin kalian akan bertemu di tujuan, lalu saling menyapa "bagaimana perjalananmu?"

Dear kamu; siapapun, yang mungkin sedang menunggu tanpa aba-aba :)


Mimpi akan membawa kita terbang melintasi benua. Meninggalkan segala kenyamanan diri dan memilih tinggal nan jauh dari rumah. Aku sempat berpikir bahwa ini adalah perihal ilmu yang sifatnya dunia. Ternyata, semua melebihi apa yang kubayangkan. Banyak hal yang benar-benar mengantarkanku pada perenungan panjang akan arti ujian yang sebenarnya. Hal yang mengantarkanku pada pemaknaan syukur yang sebenarnya. Rasa ke-hamba-an yang semakin menguat.

Saat selama ini kita terus mengeluh karena kepanasan (yang padahal panasnya tidak seberapa) ternyata jika dibandingnkan dengan orang-orang disini, mereka sangat mengaharapkan kehadiran matahari yang selalu kita kecam itu. Tentang dingin yang masih bisa kita atasi hanya dengan menyematkan selimut yang tebalnya tidak seberapa. Lantas kita masih mengutuk. Sementara di belahan bumi lainnya ada yang harus menggunakan jaket tebal berlapis-lapis dan heater sepanjang hari demi mendapatkan kehangatan.

Saat kita mengeluh karena waktu buka puasa yang seharusnya jam 6 sore menjadi jam 6.15, sementara dibelahan bumi yang lainnya ada yang bahkan berpuasa hingga 20 jam, sedangkan kita hanya sekitar 15 jam masih mengeluh? 

Harusnya kita bersyukur atas nikmat hutan yang kita miliki, yang mampu bertahan sepanjang tahun, tumbuh subur, dan memberi manfaat bagi kita. Sementara di belahan bumi yang lain, orang berpikir keras bagaimana cara agar tanaman tetap bertahan bahkan di musim dingin yang mematikan berbagai macam tanaman-tanaman. Hanya beberapa yang mampu bertahan dengan suhu bumi yang ekstrim.

Kita mungkin belum paham bahwa di beberapa negara jumlah polusi karbondioksida di udara meningkat di sekitar September hingga Januari karena tanaman sekarat, menggugurkan daunnya dan tidak terjadi fotosintesis yang sangat berfungsi dalam menyerap karbon dioksida..

Mungkin, ketika di rumah kita sering mengeluh tentang berbagai macam masakan lezat Ibu karena kita tidak menyukai rasanya. Sementara di waktu yang sama, ada yang belum bisa makan seenak itu karena kemampuan masak yang seadanya , beli makanan enak pun belum tentu bisa karena akses makanan enak yang halal yang sulit..

Mungkin kita ngeluh ketika mungkin saat kita sakit, ibu atau bapak kita terus-terusan nanyain kita mau makan apa? dan tak hentinya menyuruh kita mengkonsumsi obat yang sudah mereka siapkan.. Tapi kita merasa risih dengan semua itu bahkan sampai menolak dengan cara kasar.. Di sini, hal itu adalah hal yang sangat dirindukan...

Iya. Ini bukan sekedar perjalanan.. still long way to go...

Kenapa kita masih kurang bersyukur? Mungkin kita butuh menyeberang benua, agar syukurnya makin bertambah.

---------------------------------------------------------------------
(Tulisan yang mendekam 4 tahun dalam draft) - tulisan versi pertama tanpa editing

 

Nama-nama Buah-buahan dalam Bahasa Toli-toli (Totolri) dan Bahasa Inggris (English) 

No.Buah-buahanBahasa TolitoliEnglish
1AlpukatAlpukatAvocado
2AnggurAnggurGrape
3ApelApelApple
4DurianDurianDurian
5JagungBinteCorn
6Jambu airKonggomosWater Apple
7Jambu bijiBeabatGuava
8KedondongKadondongAmbarella
9KelapaNiugCoconut
10Kelapa MudaLumbagYoung Coconut
11LangsatLanjatLangsat/Lanzones
12LemonLemoLemon
13ManggaTaipangMango
14ManggisManggisMangosteen
15NenasNanasiPineapple
16PepayaKapeaPapaya
17PisangSaginBanana
18RambutanRambutanRambutan
19SalakSalakSnake fruit
20SemangkaSemangkaWatermelon
21TimunAntimunCucumber

Baca juga :
  • Nama-nama hewan
  • Nama Anggota Tubuh

Older Posts Home

WELCOME ABOARD!

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Berhenti menyalahkan, mulai memahami
    Dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah bisa menghindari luka kecil maupun kekecewaan besar. Ada rencana yang sudah disusun dengan penuh h...
  • Belajar Pulang
    Tidak ada seorang pun yang benar-benar siap kehilangan. Kita boleh merencanakan banyak hal dalam hidup. Sebut saja pendidikan, karier, perja...
  • Bayangan Rasa
    Saya termasuk orang yang sangat jarang mengunggah foto makanan atau aktivitas makan bersama. Jikapun ada foto yang tersimpan di galeri, hamp...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Makalrambot Lipu (Teringat Kampung Halaman)
    Lagu-lagu daerah Tolitoli cukup banyak yang menceritakan kerinduan seorang perantau terhadap kampung halamannya, termasuk lagu Makalrambot L...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Tinga Kinaaku (Suara hatiku)
    Naah, ini adalah salah satu lagu yang sangat terkenal juga di Tolitoli. Judulnya adalah " Tinga Kinaaku" , atau bisa diartikan seb...
  • Teman Seperjalanan
    Keberanian bukanlah tentang menghilangkan rasa takut. Tapi keberanian adalah ketika kita tetap melangkah, meski hati penuh keraguan, meski s...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Lutungan (Patriot Baolan)
    Nah, lagu ini adalah salah satu lagu fenomenal kota Tolitoli karena sering dinyanyikan dalam acara-acara kedaerahan, pun sering juga diperke...
  • Sebenarnya, Apa Alasan Kita Memilih Menjadi Relawan ?
    Menjadi Relawan atau Volunteer adalah sebuah pilihan. Pilihan bagi orang-orang terpilih. Pilihan bagi orang yang mau dan memberanikan...
  • Tak ingin ditunggu (lagi)
    Pertemuanmu dengannya di jalan waktu itu, bukanlah kesalahan. Waktu pertemuannya saja yang kurang tepat. Karena dalam perjalanan;  Di tengah...
  • Menuju Turki di Penghujung Summer 2021
    Hampir di penghujung summer break 2021, barulah saya memutuskan untuk memberi reward kepada diri sendiri yang sudah mau berjuang selama 6 bu...

Categories

Beasiswa 6 Catatan 40 Cerita Saya 37 English Article 2 Kampung Inggris Pare 15 Pojok Umum 33 Refleksi 24 Tentang Toli-toli 8

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  January (1)
      • Bayangan Rasa
  • ►  2025 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  May (3)
  • ►  2023 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (11)
    • ►  December (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2018 (31)
    • ►  December (3)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (30)
    • ►  November (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  May (3)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
  • ►  2016 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (4)
  • ►  2015 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (10)
    • ►  June (3)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  August (1)

Total Pageviews

Contact Form

Name

Email *

Message *

Featured Post

Memaafkan atau dimaafkan bukanlah perihal mana yang lebih baik. Keduanya adalah dua hal yang sama-sama membutuhkan keikhlasan. Kita dilatih ...

rukmana.rs

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates