A Learner's Journal
  • HOME
  • GENERAL
  • REFLEKSI
  • CERITA SAYA
  • CATATAN
  • BICARA LINGKUNGAN
  • ABOUT ME
 
Yang namanya hidup pasti (menuntut) selalu ada interaksi. Interaksi dengan banyak orang. Baik orang yang sudah kita kenal lama atau orang baru yang bisa jadi  baru-baru kita temui 1 menit yang lalu, 1 jam yang lalu, 1 hari yang lalu, 1 minggu yang lalu, 1 bulan yang lalu atau bahkan 10 tahun yang lalu. Cukup sederhana, karena memang kita butuh interaksi dengan orang lain karena kodrat kita sebagai manusia sosial yang dalam agama pun kita diperintahkan  untuk habluminallah wa habluminannaas. Jadi, belajar untuk menjalin relasi yang baik dengan setiap orang adalah hal yang tidak bisa kita hindari.   

Ketika banyak orang yang mulai berdatangan dalam hidup kita. Ingin mengenal kita, ingin dekat dengan kita. Maka kita tidak bisa menolaknya. Bukankah setiap kita ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lainnya seperti yang sering kita ceritakan, seperti yang kamu ceritakan kepadaku? Biarkan saja mereka masuk. Lebarkanlah pintu kehidupanmu untuk di masuki oleh orang di luar sana yang ingin masuk dengan harapan mereka bisa mengambil banyak hikmah dan pelajaran dari kisah hidupmu saat keluar nanti. Harap-harap akan menjadi pemberat timbangan di akhirat nanti. Aah, kamu jangan salah paham, ini bukan pamrih. Bukankah setiap hal kebaikan yang kamu lakukan itu senantiasa berharap balasan pahala dari Allah ? Iya kan?! Nah, begitulah.  Maka, ingin ku katakan lagi bahwa  itu akan lebih baik bagimu, bagi kita.

Ketika banyak orang mulai berdatangan dalam kehidupanmu. Untuk manusia sepertimu, yang katanya mencoba untuk menjadi manusia yang selalu bermanfaat bagi orang lain. Maka membiarkan mereka seperti itu adalah sebuah kewajaran. Biarkan saja mereka masuk untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari kisah hidupmu asalkan tidak untuk mengintervensi kehidupanmu.  Jadi, sebelum mereka masuk maka silahkan bersepakat dan  bersepaham dulu di awal !
Setiap pencapaian yang sudah ku genggam hari ini sejatinya adalah sebuah proses panjang yang bukanlah perkara mudah. Membutuhkan kesabaran yang berlebih dalam melewati semuanya. Tak terkecuali hadirnya orang-orang istimewa yang datang dalam kehidupan dengan membawa peran sebagai motivator dan inspirator. Melewati tantangan untuk sama-sama berjalan seiringan menuju mimpi-mimpi. Saling membantu dan ingatkan dalam setiap kebaikan dan menghindarkan diri dari hal-hal yang negatif. Impian kita berbeda, meski tujuan akhir kita sama, sama-sama berharapkan Jannah. Sebut saja dia Purnama. Purnama yang menjadi iring-iringan langkah yang bermula dari nol.
 
Banyak cerita dan momen yang sudah berhasil kami ciptakan untuk kemudian dikenang di masa terdepan nanti. Kedekatan pertama kali terjalin di akhir tahun 2012, tepat status kami waktu itu adalah mahasiswa baru di Universitas Tadulako Palu, aku adalah mahasiswa yang secara administratif terdaftar sebagai mahasiswa jurusan S1 Kimia FMIPA, sedangkan Purnama diterima sebagai mahasiswa S1 Kesehatan Masyarakat FKIK. Sama-sama menjadi penerima beasiswa bidik misi membuat kami sering dipertemukan dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh Persatuan Mahasiswa dan Alumni Bidik Misi kala itu. Hingga banyak waktu kami yang terhabiskan bersama-sama. Kami memang berasal dari daerah yang sama yaitu Kab. Tolitoli pun dari  sekolah tingkat atas yang sama. Namun, kala itu belum terpikir kalau kami akan sedekat hari ini. Purnama adalah sosok yang aktif di organisasi sekolah termasuk OSIS dan memiliki jabatan inti di OSIS sekolah. Aku ingat betul, semasa SMA aku hanya biasa melihatnya dari jauh, jika bertemu hal yang kami lakukan paling hanya saling melempar senyuman yang terkadang hanya sebagai formalitas belaka. Pernah juga kami pulang sekolah dengan naik becak yang sama, kalau tidak salah nama tukang becaknya "Chen", hanya sedikit perbincangan yang terjadi karena jujur aku adalah sosok orang yang termasuk pendiam apalagi bertemu dengan orang baru.

Tuhan memang punya skenario terbaik untuk setiap hamba-Nya. Kami dipertemukan di universitas yang sama, menjadi dekat dan memutus untuk menetapkan serta menuliskan mimpi-mimpi kami. Kami berspakat untuk mengejar mimpi-mimpi itu, saling mendukung, saling mengingatkan dan senantiasa meninggikan semangat untuk terus belajar dan menjadi lebih baik hingga apa yang kami cita-citakan bisa tercapai. Kami selalu percaya mantra ajaib Man Jadda wa Jada. Pernah kami mengikuti sebuah lomba karya tulis ilmiah tingkat nasional dan alhamdulillah kami lolos 10 besar dan berkesempatan mempresentasikan karya yang kami tulis di Universitas Hasanudin Makassar. Padahal bisa dibilang kami tak memiliki kemampuan menulis sebelumnya, tapi kami percaya bahwa jika kita bersungguh-sungguh maka segala kemungkinan bisa saja terjadi, tidak boleh ragu dan jangan lupa untuk mengandalkan Allah. Di akhir  tahun 2016, kami berhasil tampil di panggung yang sama, panggung  Tadulako Menginspirasi untuk berbagi. Tak harus sama dengan yang lain, kami berbagi sesuai dengan bidang expert kami. Pun di beberapa kesempatan lain juga sama. Kami  senantiasa mendukung satu sama lain. Saling antar ke bandara adalah tradisi terlebih saat akan mengikuti event. Pokoknya Purnama terbaiklah.
Nekat buat kegiatan meski hanya berdua (Pinjan, Kec Tolitoli Utara, Kab. Tolitoli)

Mendongeng berdua di TK Dewi Sartika (Desa Bambaira, Kec. Mamuju Utara, Sulawesi Barat)
Mendongeng di TK Al-Khairat Desa Lambara, Kec. Sigi
Bukan hanya itu sebenarnya, masih banyak hal nekat lain yang pernah kami lakukan 😅. Etapii, bukan hal nekat unfaedah pastinya. Hihihii

Purnama adalah partner paling paham. Partner melakukan berbagai macam hal mulai dari yang biasa, alay hingga yang terkadang kedengaran "gila". Itulah kami. Kami hanya ingin terus menebar kebaikan dimanapun kaki berpijak. Kadang jadi bijak terutama saat berbicara masalah "hati" (aku tahu sesungguhnya dia benar-benar bijak) dan tak tanggung-tanggung menjadi orang paling lucu, humoris dan alay. Ke-alay-an yang biasa kambuh disaat aku sedang "Moody". Purnama adalah sahabatku, dan bukan hanya dia tapi juga keluarganya.

Nampak indah dan harmonis kelihatannya. Tapi, sesungguhnya semua tak seindah itu. Banyak problem yang kami lewati mulai dari hal yang terlihat sepele hingga permasalahan yang sedikit lebih serius. Pernah marahan? Iya pernah, mulai dari marah yang kecil, sedang hinnga marah besar (marah besar versi kami lain lagi yaa :-D). Ketika marah hal yang kami lakukan adalah saling merenung kemudian saling bermaafan-maafan, meski kadang ada yang gensi harus meminta maaf lebih dulu. Aah, paling sayang. Persahabatan kami cita rasanya beda. Dari luar terlihat tak ada romantis-romantisnya. Paling-paling saat dia sakit saja (BUkan di doain sakit ya, wkwkwk). Tapi itulah kami dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Semoga tetap menjadi sahabat hingga ke Jannah.

****
 

Tepat maret 2017 kami sama-sama wisuda. Setelah itu, dia harus kembali melanjutkan perjalanan. Dia harus berjalan duluan untuk menjemput mimpinya. Sedangkan aku? Aku masih memilih bertahan disini untuk menuntaskan beberapa kewajiban sebelum kembali berjalan menjemput impian. Baik-baik yah disana. Persahabatan ini tak lekang oleh jarak. Tetap berkarya agar saat nanti kita bertemu di masa depan, cerita sukses terhebat versi kita dapat saling kita kabarkan.
Catatan Ramadhan 1438 H
[Palu, 10.23 am. WITA, 29/05/17, 03 Ramadhan 1438H]




Perjalanan hidup kita tak pernah benar-benar seorang diri. Selalu ada langkah orang-orang yang lalu lalang di sekitar kita. Entahkah kita diberi kesempatan untuk saling mengenal hingga dalam atau hanya saling melempar senyum atau bahkan berlalu secepat kilat dengan perasaan masih berjalan sendirian. kita tak pernah benar-benar sendirian. Karena Allah tahu kita tak bisa hidup sendirian maka selalu saja ada orang-orang baik yang sengaja dikirim oleh Allah untuk membuat hidup kita semakin terasa hidup.

Adalah dia seorang gadis manis nan sholehah yang aku dipertemukan dan mengenalnya sejak 3 tahun lalu, tahun 2014 tepatnya. Dipertemukan dalam sebuah lembaga dakwah kampus (red : LDK UPIM) pun dalam departemen yang sama, bukan dan tak lain adalah departemen Pengembangan Tilawatil Quran dan Seni Islam (PTQ dan SI) membuat kami terbiasa menghabiskan waktu dan bersama hingga akhirnya menjadi sedekat ini.

Lantas, segampang itukah prosesnya hingga kami bisa sedekat hari ini? Tidak ! Perbedaan karakter yang cukup bertolak belakang terkadang menimbulkan banyak kesalahpahaman diantara kami, bukan hanya sekali, dua, tiga atau empat namun hingga berkali-kali. Hingga akhirnya aku benar-benar paham dan mengerti bahwa inilah proses untuk membuat kita lolos pada ujian "saling memahami". 

Dia tipe orang yang perhatian sedangkan aku ? Aku adalah orang yang tipenya cuek dan pendiam serta paling sulit diajak "romantis". Karena sifatku yang seperti itulah yang membuat kami selalu berselisih paham. Bahkan dia tak segan merajuk padaku. Tapi, aku percaya bahwa itu adalah bentuk sayang dan khawatir padaku, aku dan dia hanya butuh waktu untuk saling menyendiri untuk meredam amarah dan memastikan bahwa amarah itu palsu, amarah yang hanya datang untuk mempertegas bahwa kita benar saling menyayangi.

Kami dekat, apakah kami dari fakultas yang sama? Apakah aktivitas keseharian kami sama? Tidak. Kami dari fakultas yang berbeda, dia adalah mahasiswa yang bergelut di bidang bahasa, seni dan sastra Indonesia sedangkan aku adalah mahasiswa exact yang menghabiskan sebagian besar waktu di laboratorium selama kuliah,  pun aktivitas keseharian kami jarang ada yang sama, hanya ada beberapa kali kami sempat dipertemukan di kegiatan yang sama selain LDK UPIM.

Aku juga punya sahabat-sahabat lain di luar sana. Aku tahu dia pun sama, ada sahabatnya yang lain di luar sana. Ada sahabat yang selalu ada buatnya. Adalah hal yang ku rindukan ketika ada cemburu diantara kami. Aku merindu pada cemburu karena disaat cemburulah aku baru bisa menjadi seorang yang sedikit "romantis". Aah, aku tahu betul adalah perasaan cemburu yang juga menjadi penyebab cekcok diantara kami. Cemburu ? Iya kami saling mencemburu pada sahabat kami  masing-masing. Aku tahu yang paling ekspresif adalah dia. Kelihatannya aku memang santai saja, karena aku punya cara  sendiri untuk tegaskan bahwa aku cemburu.

Percayalah tali persahabatan ini tak akan putus. Kita berhak dan boleh cemburu. Tapi, kita harus ingat bahwa setiap orang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangannya yang seiring berdampingan. Setiap orang tidak akan sama dengan orang yang lain. Setiap orang itu unik dan unik itu istimewa. Tak usah khawatir sahabat-sahabatku adalah kamu, kalian dan mereka yang istimewa dan setiap yang istimewa itu mendapat tempat istimewa di dalam hati ini.

Adalah dia, adalah seorang gadis berkaca mata, yang kata orang kami kembar bahkan sampai Ibu dan Bapaknya pun sempat mengira kalau saya adalah dia, adalah dia yang aku tak hanya menjadi sahabatnya pun sahabat bagi keluarganya, adalah dia sang Hafidzah yang sudah resmi menggenap menyempurnakan sebagian agama, adalah dia yang manja, adalah dia yang cerewet, adalah dia yang istimewa, adalah dia adalah dia yang memanggilku Eonni, adalah dia yang biasa ku panggil Caca. Iya, dia adalah Fakhrunnisa Al-Ayubi. Syukron katsiran. Tetaplah menjadi sahabatku yang biasa kita sebut "Sahabat Until Jannah" dan selalu menggunakan hastag #rabithah.

Catatan Ramadhan (Palu, 20.39 pm WITA, 28/05/17. 02 Ramadhan 1438 H)






Hampir memasuki waktu sholat isya, orang-orang sudah mulai  berbondong-bondong menuju masjid. Masjid mulai ramai dan di padati para jamaah yang akan melangsungkan sholat isya dan tarwih padahal muadzin pun belum mengumandangkan suara adzan. Terlebih saat adzan telah dikumandangkan jamaah terlihat semakin memadati area masjid. Kelihatannya bagian dalam masjid tak mampu menampung hingga banyak jamaah yang terpaksa harus melaksanakan sholat isya dan  tarwih di teras masjid. Itulah sedikit gambaran pemandangan yang akan sangat familiar saat ramadhan tiba terkhusus pada hari-hari pertama. Maklum, ramadhan adalah bulan mulia yang selalu di rindu nantikan oleh kaum muslimin, bulan penuh bonus, bulan untuk meraup sebanyak-banyak pahala, bulan penuh ampunan, bulan sejuta berkah. Jadi, adalah hal wajar ketika orang berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat tarwih di masjid secara berjamaah.

Lantas, apakah masjid benar-benar dipenuhi jamaah? Coba tanya ke diri kita masing-masing! Fakta yang sering saya dapati setelah sholat di beberapa tempat adalah banyaknya shaf yang tidak rapat dalam sholat, harap-harap shaf rapat malah yang dirapatkan adalah sajadahnya. Sayangnya lagi banyak jamaah yang berpikiran bahwa yang dirapatkan adalah sajadahnya. Jadinya yang paling lebar sajadahnya maka dialah yang tempatnya paling luas. Padahal space sajadah yang luas tersebut akan lebih baik jika ditempati oleh jamaah lain agar lebih banyak jamaah yang bisa ditampung dan shaf sholat benar-benar rapat dan tidak terputus-putus karena sesungguhnya tidak ada shaf yang putus kecuali ada setan diantaranya.

Merapikan dan merapatkan shalat adalah perilaku yang utama dalam shalat berjama'ah. Dalam hal ini ulama telah bersepakat tentang persyariataannya. Rasulullah selalu memperhatika orang-orang yang sholat berjama'ah  dan memperhatikan shafnya. Beliau pernah bersabda :
 "Benar-benarlah kalian dalam meluruskan shaf, atau (jika tidak) niscaya Allah akan membuat perselisihan di antara wajah-wajah kalian." (HR. Muslim No. 436)
Nah, kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan? Diam saja sambil ngomel dalam hati? 
Hal pertama yang dapat kita lakukan ketika mendapati kondisi seperti ini adalah mengingatkan. Cobalah untuk mengingatkan jamaah yang ada di sekitar kita tentang yang seharusnya sembari memberikan pemahaman. Tapii, harus ingat mengingatkan jangan sampai terkesan menggurui atau sok tahu, jaga perasaan orang lain jangan sampai tersinggung terlebih orang yang lebih tua. 

Sebenarnya bagaimana shaf shalat yang seharusnya?
Shaf yang benar adalah yang lurus dan rapat. Makna shaf yang rapat dapat dilihat pada hadits-hadits berikut ini : 
"Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti pada malaikat. Luruskan diantara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kososng, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-selah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)." (HR. Ahmad dan Thabrani)
"Luruskan shaf kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku". Maka hendaklah kalian menempelkan bahunya dengan bahu kawannya, dan kakinya dengan kaki kawannya." (HR. Bukhari No. 692)
Berbicara masalah shaf  beberapa ulama memiliki perbedaan pendapat ada yang menyatakan sunnah pun ada juga  yang mewajibkan sebagai rukun dalam sholat berjama'ah. Namun, meskipun ada perbedaan pendapat atau ikhtilaf, satu hal yang perlu kita ketahui adalah ulama bersepakat bahwa shaf adalah bagian dari syariat.  dan merupakan budaya shalat pada zaman terbaik islam

Selanjutnya, bagaimana jika sudah diingatkan tapi tidak diindahkan?
Tugas kita adalah saling mengingatkan. Berharap orang untuk mengindahkan apa yang kita sampaikan itu bukanlah hal mudah, kita gak usah berharap tinggi dulu apalagi orang yang baru kita kenal. Kita tidak boleh memaksakan kehendak apalagi untuk pertama kali karena semuanya butuh waktu. Tugas kita adalah untuk saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Terlepas dari diindahkan atau tidak sebaiknya bersabar saja sembari untuk terus saling mendoakan agar senantiasa dilimpahkan rahmat dan semoga diberi petunjuk karena kita hidup dan bertumbuh di lingkungan yang memiliki pemahaman yang beragam. Lanjutkan saja sholat kamu! Wallahu'alam.

 Bagaimana dengan sholat saya? Apakah diterima atau tidak?
Yang tahu sholat kita diterima atau tidak hanyalah Allah SWT, Sang Dzat Maha Mengetahui. Termasuk semua sholat-sholat lain yang pernah kita lakukan. Bukan kuasa kita untuk memastikan hal itu. Tugas kita hanyalah beribadah sebaik-bainya sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah. Semoga Allah SWT menerima semua amalan dan Ibadah kita. Namun, jikalau masih ada keragu-raguan maka sholatlah kembali saat kamu sudah di rumah.

****

Nah, itu sedikit uraian dari saya sebagai salah satu bentuk berbagi. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini. Semoga fenomena-fenomena seperti diatas bisa kita jadikan bahan pertimbangan dan pelajaran dalam setiap proses kita untuk terus menjadi manusia yang lebih baik. Jika ada hal-hal yang kurang sesuai mohon untuk saling mengingatkan. Tetaplah saling mengingatkan dalam kebaikan. Ingat, yang dirapatkan KAKI bukan SAJADAH !
Semangat berpuasa, Semangat beribadah !

(Palu, 09.53 a.m WITA, 27/05/2017 , 02 Ramadhan 1438 H) #1


***************************************************************
Referensi
www.konsultasiislam.com
Buku Panduan Sifat Shalat Nabi







 
Kita sudah bersepakat. Tak ada lagi saling tuntut di kemudian hari. Karena hari ini kita telah bersepakat untuk tidak memutus perjanjian apapun, jadi tidak ada lagi yang akan kita permasalahkan jika suatu hari nanti kita akan beranjak dengan pilihan kita masing-masing, terlepas dari tetap kamu kah itu atau orang lain yang baru saja berteduh untuk sejenak. Kita sudah paham dengan setiap resiko dari kesepakatan  yang telah kita iyakan bersama.

Tapi. sayang. Kamu mulai kehilangan kharisma di mataku. Lantas, hari ini kamu datang bertanya keheranan padaku lewat angin. Bukankah kita sudah bersepakat mengenai "resiko" lantas apa yang kamu permasalahkan hari ini? Iya kita sudah bersepakat. Hal yang terjadi hari ini bukan tentang kesepakatan tapi tentang hal yang kamu menyebutnya "peduli".

Stop! Berhentilah berbicara padaku. Sudah ku bilang, kamu mulai kehilangan kharisma di mataku. Terima kasih telah mempedulikan dan berniat melindungiku. Meski ku tahu bentuk pedulimu adalah cara yang tak pernah ku harapkan. Terima kasih telah peduli dengan mempermainkan "hati dan perasaan".





Aku masih sama. Masih sama seperti yang dulu. Memang, aku masih tetap disini. Masih memilih untuk berjejak di tempat ini. Akan memastikan bahwa semua baik-baik saja setelah beberapa waktu yang lalu katamu aku menghilang. Aku bukannya menghilang. Hanya memilih untuk berjeda dan kembali untuk saling menemukan. Karena ku tahu pertemuan kita adalah disini bukan disana. Kamu masih sama sepertiku kan? Aah kamu. Percaya saja padaku. Aku hanya sedang berjeda untuk menciptakan jarak. 

Aku tahu betul kamu masih punya duniamu. Pun duniaku masih menjadi prioritas utamaku saat ini. Nikmati saja dulu duniamu saat ini. Akupun masih merampungkan urusan di duniaku. Maka biarkan dulu kita berjeda dengan jarak yamg sengaja ku ciptakan ini. Aku tahu kita sama-sama sedang berjuang. Kamu berjuang dan akupun berjuang.

Tak perlu kau risaukan. Perbanyak sajalah rayumu ke pada Sang Pemilik Jarak dan Waktu. Semoga jarak ini bisa menjadikan waktu yang panjang untuk menata angan, impian dan rencana kita yang sempat tertunda. Mari kita berdamai dengan jarak ini. Jarak yang membuat singkat waktu yang memaksa kita untuk harus menciptakan jarak, semoga.

Noted :
Sabtu, 15 April 2016
Palu – Sulawesi Tengah - Indonesia


Saya adalah anak pertama dari 2 bersaudara dengan seorang adik laki-laki yang masih duduk di bangku kelas IX SMP. Demi pendidikan yang lebih baik maka keadaan mengharuskan saya untuk merantau dari kampung halaman sejak kelas X SMP. Hampir 10 tahun sudah saya tinggal di tanah rantau dengan alasan pendidikan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah. Desa Pinjan, Kec. Toli-toli Utara adalah kampung halaman saya yang terletak hampir 600 km dari kota Palu yang akhirnya membuat saya jarang pulang di waktu libur sekalipun. Tak mudah menjadi pelajar rantauan, harus survive di perantauan. Apalagi harus berjuang pula untuk memenuhi kebutuhan pribadi tanpa harus terus mengharapkan suntikan dana sepenuhnya dari orang tua.

Berbicara kisah hidup sebenarnya merupakan sebuah proses panjang menurut saya. Terlebih jika harus menceritakan perjalanan kehidupan saya dari awal hingga menjelang mahasiswa tingkat akhir.

Diterima di untad sebagai mahasiswa bidik misi membuat saya memikul sebuah tanggung jawab untuk amanah dengan proses akademik saya. Bagaimana tidak? Iya, karena segala fasilitas kampus yang kita gunakan merupakan fasilitas yang diberikan secara Cuma-Cuma dengan harapan kita bisa menjadi insan yang akademis, mandiri dan melahirkan genarasi-generasi emas selanjutnya. Tak ada tuntutan lain selain memberi persembahan terbaik dan priorotas berupa nilai-nilai akademik. Belum lagi tuntutan keluarga di kampung halaman untuk menjaga diri baik-baik di negeri rantau agar jangan sampai terbawa arus dalam lajur pergaulan yang tidak diinginkan. Tentunya hal itu akan menjadi salah satu motivasi setiap mahasiswa untuk menjalankan amanah akademiknya dengan baik. Bukan hanya menjadi motivasi sebenarnya tapi kadang menjelma menjadi perasaan tsayat. Hingga berujung pada ketsayatan yang lain pula seperti tsayat untuk melibatkan diri dalam organisasi, lomba-lomba dan kegiatan-kegiatan lainnya di luar aktivitas non akademik. Ditambah lagi dengan banyaknya “virus” yang menyebarkan hal-hal yang buruk mengenai dampak negatif mengikuti berbagai kegiatan lain yang sebenarnya bermanfaat namun dianggap tidak penting.

Hal itu pernah saya rasakan. Saya pernah berada di masa-masa seperti itu. Bekal yang kurang sebenarnya adalah hal utama yang menjadi penyebab akhir mahasiswa menjadi Kupu-Kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Sebenarnya tak mengapa juga sih dengan pilihan seperti itu tetapi akan lebih baik jika turut melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang lain. Saat masih duduk dibangku SMAN 1 Tolitoli saya pernah tergabung dalam satu organisasi yaitu PMR itupun keterlibatan saya seadanya saja tanpa didasari niatan yang tulus untuk belajar dan suka ogah-ogahan. Bukan tanpa alasan sebenarnya hingga akhirnya saya seperti itu. Pada dasarnya saya adalah orang yang sangat pendiam dan pemalu sehingganya untuk bergabung di organisasi saya harus mengumpulkan puing-puing keberanian karena harus bertemu dengan orang-orang baru dan belum dikenal.

Bak bayangan yang selalu ada dimanapun kita berada. Sikap pendiam dan pemalu masih terus saja mengikut hingga ke dunia  perkuliahan. Tak heran jika di kampus saya terkenal pula sebagai mahasiswa yang pendiam dan pemalu. Akibatnya hanya teman seangkatan sajalahah yang saya kenali dengan baik. Hampir 2,5 tahun masa perkuliahanku hanya saya habiskan untuk aktifitas kampus, kuliah, asrama. Memang saya tengah tergabung dalam organisasi kala itu itupun hanya karena anjuran dari jurusan. Namun, saya belum memiliki perasaan yang greget. Saya merasa masih banyak yang kurang dalam keseharian saya. Saya iri melihat teman-teman yang punya banyak teman, punya networking yang luas hingga saya melihatnya seperti artis yang tenar dan punya banyak fans. Hehe. Saya resah sendiri. Maka muncullah keinginan untuk berubah.

*****

Tak berlama-lama dalam keresahan itu. Hingga pada akhir tahun 2013 untuk pertama kalinya digelar kegiatan Tadulako Menginspirasi, dengan antusias saya  mendaftar sebagai peserta dalam kegiatan itu. Tak disangka ternyata kegiatan tersebut benar-benar menginspirasi. Saya menemukan inspirasi dan motivasi dari inspirator-inspirator kala itu.

Satu bulan berselang setelah kegiatan Tadulako menginspirasi kembali diadakan sebuah kegiatan Workshop of Writing. Tak ragu-ragu lagi saya langsung mendaftar lagi dan di kegiatan inilah saya menemukan puncak semangat itu. Tak rugi saya  ikuti kegiatan kece itu. Alhamdulillah disana saya dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki semangat untuk berubah lebih baik yang tinggi. Saya banyak belajar dari mereka. Kegiatan tersebut cukup berkesan sehingganya kami tetap berhubungan pasca kegiatan. Sejak saat itulah ada bisikan dari dalam diri untuk berkomitmen bahwa saya harus bisa berubah menjadi lebih baik. Paling tidak perubahan pada hal-hal kecil dulu seperti memperbanyak jumlah kenalan di kampus terkhusus di FMIPA. Itu adalah hal paling sederhana yang dapat saya lsayakan.

Saya masih ingat bahwa waktu itu peserta Workshop ditantang agar bisa menghasilkan karya tulis (esai, kti, puisi, cerpen dll) yang bisa lolos seleksi hingga tingkat nasional. Hal ini cukup menjadi stimulus bagi semua peserta. Cara ini cukup berhasil, satu dua bulan kemudian satu per satu karya teman-teman sudah ada yang tembus hingga ke nasional seperti karya cerpen, esai untuk apply beasiswa nasional yang seleksinya cukup ketat, LKTIN dan sebagainya. Ada dorongan dalam diri untuk sama seperti teman-teman yang lain.

Pertengahan tahun 2014 adalah pertma kali semangat untuk berkarya dan berkompetisi itu dimulai dan melahirkan karya. Kegiatan Indonesia Youth Forum #3 di Wakatobi Sulawesi Tenggara yang diadakan oleh salah satu NGO bekerjasama dengan Kemenpora RI adalah kegiatan nasional pertama yang saya ikuti setelah melalui 3 tahap seleksi mulai dari daftar online hingga wawancara. Kegiatan ini memberikan banyak efek positif karena disini saya memperoleh kesempatan untuk  kembali belajar banyak dan terhubung dengan orang-orang baik di nusantara. Saya kembali teringat kata-kata salah satu dosen terbaik di untad kurang lebih begini kata-katanya “...yang kalian harus lsayakan adalah memulai melangkah. Jika sudah melangkah yakinlah bahwa akan ada langkah kedua, ketiga, keempat dan langkah kesekian...”. Dan kini tiba giliran untuk saya membuktikan pernyataan tersebut. Semangat itu masih ada. Kembali saya meencoba menulis dan mengikuti lomba karya tulis ilmiah nasional. Beberapa waktu kemudian, masih dengan perasaan tak percaya ternyata tim kami berhasil lolos menjadi finalis 10 besar dalam kegiatan INOVASI di Universitas Hasanuddin Makassar. Jika kemarin saya sudah memulai langkah pertama sebagai peserta IYF maka langkah kedua saya adalah pada kegiatan INOVASI unhas. Ini merupakan satu kesempatan baik lagi untuk kembali belajar dan membangun jaringan.

Bukan hanya itu, diakhir tahun 2014 juga menyempatkan diri untuk menulis proposal PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) yang merupakan salah satu program dari kemenristek dikti yang sangat bergengsi dan selalu dinanti setiap tahunnya. Mahasiswa se-Indonesia berlomba-lomba dalam mengikuti kegiatan tersebut. Setelah berusaha semaksimal mungkin, memang hasil tak akan mengkhianati proses, hasilnya berbuah manis, tulisan saya menjadi salah satu pemenang dana hibah PKM-PE tahun 2014 pendanaan 2015.

Man Jadda wa Jada. Mantra ajaib yang benar-benar manjur yang hingga hari ini menjadi salah satu motivasi dalam keseharianku dalam melsayakan segala aktifitas. Biasanya kusempatkan untuk merenungi setiap pencapaian yang kudapati. Rasanya masih belum percaya pada diri saya sendiri, orang yang pemalu dan pendiam seperti saya ternyata bisa juga bersanding dan bersama dengan orang-orang hebat di luar sana. Meski saya tahu memang saya belum ada apa-apanya dibanding mereka. Namun, saya percaya bahwa suatu saat nanti saya pasti bisa sama seperti mereka bahkan mungkin bisa lebih dari mereka. Asalkan tetap berusaha semaksimal mungkin karena tak ada kesuksesan yang dicapai dengan cara yang instan.

Saya mempunyai satu kebiasaan unik. Kebiasaan unik itu adalah selalu membiasakan diri untuk mengapresiasi diri sendiri meski hanya dengan bergumam sendiri “...Wahai diri, wahai Rukmana, ternyata kamu hebat !..”. Hal ini memang kadang terlihat sedikit konyol bagi beberapa orang, tapi tidak. Siapa sangka hal seperti ini ternyata mampu membantu melejitkan spirit dan semangat untuk berbuat lebih baik lagi. Apresiasi itu sebenarnya penting, bagaimana mungkin orang lain akan memberi apresiasi jika kita saja tidak ada apresiasi apa-apa untuk diri kita sendiri.

Di awal tahun 2015 saya kembali mengikuti seleksi untuk mengikuti kegiatan ICN Conference alias Indonesian Culture and Nationalism 2015 di Kampus Prasetiya Mulya Bussiness School Jakarta. Tiap provinsi hanya ada satu orang yang lolos dan alhamdulillah saya medapatkan kesempatan itu dan menjadi delegasi propinsi Sulawesi Tengah. Bukan hanya itu, seorang kakak senior menulis karya tulis dan diikutkan di LKTIN yang diadakan oleh ITB, kali ini kembali  menjadi finalis 10 besar meski kami tak sempat berangkat untuk melakukan presentasi. Selain itu, saya juga sempat menulis karya tulis tentang kemaritiman yang diikutkan di lomba LKTM Tingkat Sulawesi di Makassar. Ditahun yang sama juga saya menulis karya tulis tentang lingkungan untuk diikutkan dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi Universitas Tadulako 2015. Pun saya juga kembali menulis Proposal PKM-PE dan alhamdulillah saya kembali dinyatakan lolos sebagai pemenang dana hibah tahun 2015 pendanaan tahun 2016.

Sejatinya pencapaian-pencapaian yang saya capai hingga hari ini tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan orang-orang dan teman-teman saya di luar sana. Jadi juara? Gak pernah, paling-paling jadi finalis saja, masih banyak orang-orang yang mungkin sudah bosan dengan predikat juara. Ke luar negeri ? Hingga hari ini pun belum pernah, meski ada segenap cita-cita untuk ke luar negeri terkhusus ke Jepang. Namun, apapun pencapaian-pencapaian saya hari ini saya tetap bangga  dan selalu mengapresiasi (bukan sombong ya!) atas pencapaian saya yang biasa-biasa saja itu. Paling tidak saya sudah berani memulai langkah saya, langkah kedua  dan langkah-langkah selanjutnya. From zero to hero. Alhamdulillah hasilnya lumayan untuk seseorang yang memulai semua dari nol seperti saya. Jika diingat-ingat lagi, saya tak pernah punya pengalaman menulis sebelumnya, pun berbicara di hadapan publlik adalah hal yang jarang saya lakukan sebelumnya, saya selalu mengambil posisi “aman” dan “nyaman”. Hingga akhirnya saya tersadar bahwa saya juga harus keluar dari zona nyaman tersebut. Kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan asalkan kita perjuangkan dengan sebaik-baik perjuangan. Jangan pernah takut bermimpi ! Toh jika bermimpi saja kita takut, bagaimana mewujudkannya?. Percayalah, Man Jadda Wa Jada. Laa takhaf wa laa tahzan innallaaha ma ana.

Lantas, bagaimana kuliah saya ? Ini adalah hal yang selalu menjadi pertanyaan banyak orang. Satu hal yang pasti adalah semua orang menginginkan keseimbangan antar semua bagian. Kuliah saya lancar meski dengan berbagai kesibukan yang ada. Hanya saja harus siap dengan segala resiko-resiko yang mungkin muncul. Kita harus paham bahwa tidak ada suatu keberhasilan yang dicapai dengan cara yang instan. Tinggal bagaimana cara kita menghadapi semua kondisi dan kemungkinan secara bijak.

Pada akhirnya harus tetap kita ingat bahwa hidup itu cuma sekali. Sebanyak dan sehebat apapun prestasi kita, bukankah sebaik-baik makhluk, sebaik-baik manusia dan   sebaik-baik hidup adalah hidup yang bermanfaat untuk orang lain? Apalah arti prestasi jika tidak memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara terlebih agama. Olehnya, ditengah kesibukan saya sebagai mahasiswa jurusan kimia fmipa yang kata orang super sibuk saya juga mendedikasikan diri untuk terlibat dan menjadi bagian  dalam sebuah komunitas sosial bergerak dibidang kebaharian yaitu Rumah Bahari Gemilang. Disitu pulalah saya menghabiskan sebagian waktu  saya meski hanya untuk sekedar berbagi semangat dan harapan dengan mereka yang di tepian pesisir sana. Pun dari sanalah juga saya belajar tentang makna nikmat dan syukur yang sesungguhnya.

Hingga pada akhirnya saya tegaskan bahwa prestasi terbesar saya adalah ketika saya bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.


Note :
Rukmana Suharta
Malam Jum’at, 10-11-16 (Hujan-hujan di Anak Untad Books and Cafe)
Newer Posts Older Posts Home

WELCOME ABOARD!

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Makalrambot Lipu (Teringat Kampung Halaman)
    Lagu-lagu daerah Tolitoli cukup banyak yang menceritakan kerinduan seorang perantau terhadap kampung halamannya, termasuk lagu Makalrambot L...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Tinga Kinaaku (Suara hatiku)
    Naah, ini adalah salah satu lagu yang sangat terkenal juga di Tolitoli. Judulnya adalah " Tinga Kinaaku" , atau bisa diartikan seb...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Lutungan (Patriot Baolan)
    Nah, lagu ini adalah salah satu lagu fenomenal kota Tolitoli karena sering dinyanyikan dalam acara-acara kedaerahan, pun sering juga diperke...
  • DIJEBAK SUPIR ANGKOT PARE KAMPUNG INGGRIS
    Made with AI Image Creator Hari itu saya dan dua orang teman yang sedang belajar di kampung Inggris Pare berencana untuk berkunjung ke Mala...
  • BELAJAR DARI SIKAT GIGI DAN PENSIL
    03 Februari 2017. Aku pulang ke Desa Pinjan, Kec. Tolitoli Utara, Kab. Tolitoli. Ku jawab pertanyaanmu. Terima kasih atas perhatianmu untuk...
  • LUAR NEGERI ITU PALU
          Sebuah pengalaman tak terlupakan hidup selama 3 hari di sebuah pulau nun terpencil di sebuah pulau di daerah kabupaten Tolitoli Sulaw...
  • CITA-CITAKU DAN CITA-CITATA
    Adik-adik kece Kelompok Garuda        Jumat tanggal 29 Januari 2016. Kelas mimpi. masih di kelas mimpi. Masih setia dengan tim kece gar...
  • BUKAN KEBETULAN BIASA
    Hai hai hai, kembali lagi sahabat. Kali ini saya akan berbagi sebuah cerita yang menyibak makna dibalik hal-hal yang kelihatannya kecil. ...
  • (POHON ASAM) TAK SEPERTI KATA PAK GURU
    Mataku terbuka, ku tengok ke arah kiri dan kananku. Tak ku dapati pemandangan apapun selain ku dapati Kartina yang masih menikmati tidurnya...
  • (BUKAN) HANTU MOIAN
    Suasana menjadi ramai namun sedikit mencekam. Bagaimana tidak, dusun pesisir yang jaraknya kurang lebih 7  km dengan kondisi jalanan ya...

Categories

Beasiswa 6 Catatan 40 Cerita Saya 37 English Article 2 Kampung Inggris Pare 15 Pojok Umum 33 Refleksi 24 Tentang Toli-toli 8

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  January (1)
      • Bayangan Rasa
  • ►  2025 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  May (3)
  • ►  2023 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (11)
    • ►  December (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2018 (31)
    • ►  December (3)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (30)
    • ►  November (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  May (3)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
  • ►  2016 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (4)
  • ►  2015 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (10)
    • ►  June (3)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  August (1)

Total Pageviews

Contact Form

Name

Email *

Message *

Featured Post

Memaafkan atau dimaafkan bukanlah perihal mana yang lebih baik. Keduanya adalah dua hal yang sama-sama membutuhkan keikhlasan. Kita dilatih ...

rukmana.rs

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates