A Learner's Journal
  • HOME
  • GENERAL
  • REFLEKSI
  • CERITA SAYA
  • CATATAN
  • BICARA LINGKUNGAN
  • ABOUT ME
Hampir memasuki waktu sholat isya, orang-orang sudah mulai  berbondong-bondong menuju masjid. Masjid mulai ramai dan di padati para jamaah yang akan melangsungkan sholat isya dan tarwih padahal muadzin pun belum mengumandangkan suara adzan. Terlebih saat adzan telah dikumandangkan jamaah terlihat semakin memadati area masjid. Kelihatannya bagian dalam masjid tak mampu menampung hingga banyak jamaah yang terpaksa harus melaksanakan sholat isya dan  tarwih di teras masjid. Itulah sedikit gambaran pemandangan yang akan sangat familiar saat ramadhan tiba terkhusus pada hari-hari pertama. Maklum, ramadhan adalah bulan mulia yang selalu di rindu nantikan oleh kaum muslimin, bulan penuh bonus, bulan untuk meraup sebanyak-banyak pahala, bulan penuh ampunan, bulan sejuta berkah. Jadi, adalah hal wajar ketika orang berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat tarwih di masjid secara berjamaah.

Lantas, apakah masjid benar-benar dipenuhi jamaah? Coba tanya ke diri kita masing-masing! Fakta yang sering saya dapati setelah sholat di beberapa tempat adalah banyaknya shaf yang tidak rapat dalam sholat, harap-harap shaf rapat malah yang dirapatkan adalah sajadahnya. Sayangnya lagi banyak jamaah yang berpikiran bahwa yang dirapatkan adalah sajadahnya. Jadinya yang paling lebar sajadahnya maka dialah yang tempatnya paling luas. Padahal space sajadah yang luas tersebut akan lebih baik jika ditempati oleh jamaah lain agar lebih banyak jamaah yang bisa ditampung dan shaf sholat benar-benar rapat dan tidak terputus-putus karena sesungguhnya tidak ada shaf yang putus kecuali ada setan diantaranya.

Merapikan dan merapatkan shalat adalah perilaku yang utama dalam shalat berjama'ah. Dalam hal ini ulama telah bersepakat tentang persyariataannya. Rasulullah selalu memperhatika orang-orang yang sholat berjama'ah  dan memperhatikan shafnya. Beliau pernah bersabda :
 "Benar-benarlah kalian dalam meluruskan shaf, atau (jika tidak) niscaya Allah akan membuat perselisihan di antara wajah-wajah kalian." (HR. Muslim No. 436)
Nah, kalau sudah begini apa yang harus kita lakukan? Diam saja sambil ngomel dalam hati? 
Hal pertama yang dapat kita lakukan ketika mendapati kondisi seperti ini adalah mengingatkan. Cobalah untuk mengingatkan jamaah yang ada di sekitar kita tentang yang seharusnya sembari memberikan pemahaman. Tapii, harus ingat mengingatkan jangan sampai terkesan menggurui atau sok tahu, jaga perasaan orang lain jangan sampai tersinggung terlebih orang yang lebih tua. 

Sebenarnya bagaimana shaf shalat yang seharusnya?
Shaf yang benar adalah yang lurus dan rapat. Makna shaf yang rapat dapat dilihat pada hadits-hadits berikut ini : 
"Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti pada malaikat. Luruskan diantara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kososng, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-selah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barang siapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)." (HR. Ahmad dan Thabrani)
"Luruskan shaf kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku". Maka hendaklah kalian menempelkan bahunya dengan bahu kawannya, dan kakinya dengan kaki kawannya." (HR. Bukhari No. 692)
Berbicara masalah shaf  beberapa ulama memiliki perbedaan pendapat ada yang menyatakan sunnah pun ada juga  yang mewajibkan sebagai rukun dalam sholat berjama'ah. Namun, meskipun ada perbedaan pendapat atau ikhtilaf, satu hal yang perlu kita ketahui adalah ulama bersepakat bahwa shaf adalah bagian dari syariat.  dan merupakan budaya shalat pada zaman terbaik islam

Selanjutnya, bagaimana jika sudah diingatkan tapi tidak diindahkan?
Tugas kita adalah saling mengingatkan. Berharap orang untuk mengindahkan apa yang kita sampaikan itu bukanlah hal mudah, kita gak usah berharap tinggi dulu apalagi orang yang baru kita kenal. Kita tidak boleh memaksakan kehendak apalagi untuk pertama kali karena semuanya butuh waktu. Tugas kita adalah untuk saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Terlepas dari diindahkan atau tidak sebaiknya bersabar saja sembari untuk terus saling mendoakan agar senantiasa dilimpahkan rahmat dan semoga diberi petunjuk karena kita hidup dan bertumbuh di lingkungan yang memiliki pemahaman yang beragam. Lanjutkan saja sholat kamu! Wallahu'alam.

 Bagaimana dengan sholat saya? Apakah diterima atau tidak?
Yang tahu sholat kita diterima atau tidak hanyalah Allah SWT, Sang Dzat Maha Mengetahui. Termasuk semua sholat-sholat lain yang pernah kita lakukan. Bukan kuasa kita untuk memastikan hal itu. Tugas kita hanyalah beribadah sebaik-bainya sesuai tuntunan Al-Quran dan Sunnah. Semoga Allah SWT menerima semua amalan dan Ibadah kita. Namun, jikalau masih ada keragu-raguan maka sholatlah kembali saat kamu sudah di rumah.

****

Nah, itu sedikit uraian dari saya sebagai salah satu bentuk berbagi. Semoga kita bisa mengambil manfaat dari tulisan ini. Semoga fenomena-fenomena seperti diatas bisa kita jadikan bahan pertimbangan dan pelajaran dalam setiap proses kita untuk terus menjadi manusia yang lebih baik. Jika ada hal-hal yang kurang sesuai mohon untuk saling mengingatkan. Tetaplah saling mengingatkan dalam kebaikan. Ingat, yang dirapatkan KAKI bukan SAJADAH !
Semangat berpuasa, Semangat beribadah !

(Palu, 09.53 a.m WITA, 27/05/2017 , 02 Ramadhan 1438 H) #1


***************************************************************
Referensi
www.konsultasiislam.com
Buku Panduan Sifat Shalat Nabi







 
Kita sudah bersepakat. Tak ada lagi saling tuntut di kemudian hari. Karena hari ini kita telah bersepakat untuk tidak memutus perjanjian apapun, jadi tidak ada lagi yang akan kita permasalahkan jika suatu hari nanti kita akan beranjak dengan pilihan kita masing-masing, terlepas dari tetap kamu kah itu atau orang lain yang baru saja berteduh untuk sejenak. Kita sudah paham dengan setiap resiko dari kesepakatan  yang telah kita iyakan bersama.

Tapi. sayang. Kamu mulai kehilangan kharisma di mataku. Lantas, hari ini kamu datang bertanya keheranan padaku lewat angin. Bukankah kita sudah bersepakat mengenai "resiko" lantas apa yang kamu permasalahkan hari ini? Iya kita sudah bersepakat. Hal yang terjadi hari ini bukan tentang kesepakatan tapi tentang hal yang kamu menyebutnya "peduli".

Stop! Berhentilah berbicara padaku. Sudah ku bilang, kamu mulai kehilangan kharisma di mataku. Terima kasih telah mempedulikan dan berniat melindungiku. Meski ku tahu bentuk pedulimu adalah cara yang tak pernah ku harapkan. Terima kasih telah peduli dengan mempermainkan "hati dan perasaan".





Aku masih sama. Masih sama seperti yang dulu. Memang, aku masih tetap disini. Masih memilih untuk berjejak di tempat ini. Akan memastikan bahwa semua baik-baik saja setelah beberapa waktu yang lalu katamu aku menghilang. Aku bukannya menghilang. Hanya memilih untuk berjeda dan kembali untuk saling menemukan. Karena ku tahu pertemuan kita adalah disini bukan disana. Kamu masih sama sepertiku kan? Aah kamu. Percaya saja padaku. Aku hanya sedang berjeda untuk menciptakan jarak. 

Aku tahu betul kamu masih punya duniamu. Pun duniaku masih menjadi prioritas utamaku saat ini. Nikmati saja dulu duniamu saat ini. Akupun masih merampungkan urusan di duniaku. Maka biarkan dulu kita berjeda dengan jarak yamg sengaja ku ciptakan ini. Aku tahu kita sama-sama sedang berjuang. Kamu berjuang dan akupun berjuang.

Tak perlu kau risaukan. Perbanyak sajalah rayumu ke pada Sang Pemilik Jarak dan Waktu. Semoga jarak ini bisa menjadikan waktu yang panjang untuk menata angan, impian dan rencana kita yang sempat tertunda. Mari kita berdamai dengan jarak ini. Jarak yang membuat singkat waktu yang memaksa kita untuk harus menciptakan jarak, semoga.

Noted :
Sabtu, 15 April 2016
Palu – Sulawesi Tengah - Indonesia


Saya adalah anak pertama dari 2 bersaudara dengan seorang adik laki-laki yang masih duduk di bangku kelas IX SMP. Demi pendidikan yang lebih baik maka keadaan mengharuskan saya untuk merantau dari kampung halaman sejak kelas X SMP. Hampir 10 tahun sudah saya tinggal di tanah rantau dengan alasan pendidikan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah. Desa Pinjan, Kec. Toli-toli Utara adalah kampung halaman saya yang terletak hampir 600 km dari kota Palu yang akhirnya membuat saya jarang pulang di waktu libur sekalipun. Tak mudah menjadi pelajar rantauan, harus survive di perantauan. Apalagi harus berjuang pula untuk memenuhi kebutuhan pribadi tanpa harus terus mengharapkan suntikan dana sepenuhnya dari orang tua.

Berbicara kisah hidup sebenarnya merupakan sebuah proses panjang menurut saya. Terlebih jika harus menceritakan perjalanan kehidupan saya dari awal hingga menjelang mahasiswa tingkat akhir.

Diterima di untad sebagai mahasiswa bidik misi membuat saya memikul sebuah tanggung jawab untuk amanah dengan proses akademik saya. Bagaimana tidak? Iya, karena segala fasilitas kampus yang kita gunakan merupakan fasilitas yang diberikan secara Cuma-Cuma dengan harapan kita bisa menjadi insan yang akademis, mandiri dan melahirkan genarasi-generasi emas selanjutnya. Tak ada tuntutan lain selain memberi persembahan terbaik dan priorotas berupa nilai-nilai akademik. Belum lagi tuntutan keluarga di kampung halaman untuk menjaga diri baik-baik di negeri rantau agar jangan sampai terbawa arus dalam lajur pergaulan yang tidak diinginkan. Tentunya hal itu akan menjadi salah satu motivasi setiap mahasiswa untuk menjalankan amanah akademiknya dengan baik. Bukan hanya menjadi motivasi sebenarnya tapi kadang menjelma menjadi perasaan tsayat. Hingga berujung pada ketsayatan yang lain pula seperti tsayat untuk melibatkan diri dalam organisasi, lomba-lomba dan kegiatan-kegiatan lainnya di luar aktivitas non akademik. Ditambah lagi dengan banyaknya “virus” yang menyebarkan hal-hal yang buruk mengenai dampak negatif mengikuti berbagai kegiatan lain yang sebenarnya bermanfaat namun dianggap tidak penting.

Hal itu pernah saya rasakan. Saya pernah berada di masa-masa seperti itu. Bekal yang kurang sebenarnya adalah hal utama yang menjadi penyebab akhir mahasiswa menjadi Kupu-Kupu alias kuliah pulang-kuliah pulang. Sebenarnya tak mengapa juga sih dengan pilihan seperti itu tetapi akan lebih baik jika turut melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang lain. Saat masih duduk dibangku SMAN 1 Tolitoli saya pernah tergabung dalam satu organisasi yaitu PMR itupun keterlibatan saya seadanya saja tanpa didasari niatan yang tulus untuk belajar dan suka ogah-ogahan. Bukan tanpa alasan sebenarnya hingga akhirnya saya seperti itu. Pada dasarnya saya adalah orang yang sangat pendiam dan pemalu sehingganya untuk bergabung di organisasi saya harus mengumpulkan puing-puing keberanian karena harus bertemu dengan orang-orang baru dan belum dikenal.

Bak bayangan yang selalu ada dimanapun kita berada. Sikap pendiam dan pemalu masih terus saja mengikut hingga ke dunia  perkuliahan. Tak heran jika di kampus saya terkenal pula sebagai mahasiswa yang pendiam dan pemalu. Akibatnya hanya teman seangkatan sajalahah yang saya kenali dengan baik. Hampir 2,5 tahun masa perkuliahanku hanya saya habiskan untuk aktifitas kampus, kuliah, asrama. Memang saya tengah tergabung dalam organisasi kala itu itupun hanya karena anjuran dari jurusan. Namun, saya belum memiliki perasaan yang greget. Saya merasa masih banyak yang kurang dalam keseharian saya. Saya iri melihat teman-teman yang punya banyak teman, punya networking yang luas hingga saya melihatnya seperti artis yang tenar dan punya banyak fans. Hehe. Saya resah sendiri. Maka muncullah keinginan untuk berubah.

*****

Tak berlama-lama dalam keresahan itu. Hingga pada akhir tahun 2013 untuk pertama kalinya digelar kegiatan Tadulako Menginspirasi, dengan antusias saya  mendaftar sebagai peserta dalam kegiatan itu. Tak disangka ternyata kegiatan tersebut benar-benar menginspirasi. Saya menemukan inspirasi dan motivasi dari inspirator-inspirator kala itu.

Satu bulan berselang setelah kegiatan Tadulako menginspirasi kembali diadakan sebuah kegiatan Workshop of Writing. Tak ragu-ragu lagi saya langsung mendaftar lagi dan di kegiatan inilah saya menemukan puncak semangat itu. Tak rugi saya  ikuti kegiatan kece itu. Alhamdulillah disana saya dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki semangat untuk berubah lebih baik yang tinggi. Saya banyak belajar dari mereka. Kegiatan tersebut cukup berkesan sehingganya kami tetap berhubungan pasca kegiatan. Sejak saat itulah ada bisikan dari dalam diri untuk berkomitmen bahwa saya harus bisa berubah menjadi lebih baik. Paling tidak perubahan pada hal-hal kecil dulu seperti memperbanyak jumlah kenalan di kampus terkhusus di FMIPA. Itu adalah hal paling sederhana yang dapat saya lsayakan.

Saya masih ingat bahwa waktu itu peserta Workshop ditantang agar bisa menghasilkan karya tulis (esai, kti, puisi, cerpen dll) yang bisa lolos seleksi hingga tingkat nasional. Hal ini cukup menjadi stimulus bagi semua peserta. Cara ini cukup berhasil, satu dua bulan kemudian satu per satu karya teman-teman sudah ada yang tembus hingga ke nasional seperti karya cerpen, esai untuk apply beasiswa nasional yang seleksinya cukup ketat, LKTIN dan sebagainya. Ada dorongan dalam diri untuk sama seperti teman-teman yang lain.

Pertengahan tahun 2014 adalah pertma kali semangat untuk berkarya dan berkompetisi itu dimulai dan melahirkan karya. Kegiatan Indonesia Youth Forum #3 di Wakatobi Sulawesi Tenggara yang diadakan oleh salah satu NGO bekerjasama dengan Kemenpora RI adalah kegiatan nasional pertama yang saya ikuti setelah melalui 3 tahap seleksi mulai dari daftar online hingga wawancara. Kegiatan ini memberikan banyak efek positif karena disini saya memperoleh kesempatan untuk  kembali belajar banyak dan terhubung dengan orang-orang baik di nusantara. Saya kembali teringat kata-kata salah satu dosen terbaik di untad kurang lebih begini kata-katanya “...yang kalian harus lsayakan adalah memulai melangkah. Jika sudah melangkah yakinlah bahwa akan ada langkah kedua, ketiga, keempat dan langkah kesekian...”. Dan kini tiba giliran untuk saya membuktikan pernyataan tersebut. Semangat itu masih ada. Kembali saya meencoba menulis dan mengikuti lomba karya tulis ilmiah nasional. Beberapa waktu kemudian, masih dengan perasaan tak percaya ternyata tim kami berhasil lolos menjadi finalis 10 besar dalam kegiatan INOVASI di Universitas Hasanuddin Makassar. Jika kemarin saya sudah memulai langkah pertama sebagai peserta IYF maka langkah kedua saya adalah pada kegiatan INOVASI unhas. Ini merupakan satu kesempatan baik lagi untuk kembali belajar dan membangun jaringan.

Bukan hanya itu, diakhir tahun 2014 juga menyempatkan diri untuk menulis proposal PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) yang merupakan salah satu program dari kemenristek dikti yang sangat bergengsi dan selalu dinanti setiap tahunnya. Mahasiswa se-Indonesia berlomba-lomba dalam mengikuti kegiatan tersebut. Setelah berusaha semaksimal mungkin, memang hasil tak akan mengkhianati proses, hasilnya berbuah manis, tulisan saya menjadi salah satu pemenang dana hibah PKM-PE tahun 2014 pendanaan 2015.

Man Jadda wa Jada. Mantra ajaib yang benar-benar manjur yang hingga hari ini menjadi salah satu motivasi dalam keseharianku dalam melsayakan segala aktifitas. Biasanya kusempatkan untuk merenungi setiap pencapaian yang kudapati. Rasanya masih belum percaya pada diri saya sendiri, orang yang pemalu dan pendiam seperti saya ternyata bisa juga bersanding dan bersama dengan orang-orang hebat di luar sana. Meski saya tahu memang saya belum ada apa-apanya dibanding mereka. Namun, saya percaya bahwa suatu saat nanti saya pasti bisa sama seperti mereka bahkan mungkin bisa lebih dari mereka. Asalkan tetap berusaha semaksimal mungkin karena tak ada kesuksesan yang dicapai dengan cara yang instan.

Saya mempunyai satu kebiasaan unik. Kebiasaan unik itu adalah selalu membiasakan diri untuk mengapresiasi diri sendiri meski hanya dengan bergumam sendiri “...Wahai diri, wahai Rukmana, ternyata kamu hebat !..”. Hal ini memang kadang terlihat sedikit konyol bagi beberapa orang, tapi tidak. Siapa sangka hal seperti ini ternyata mampu membantu melejitkan spirit dan semangat untuk berbuat lebih baik lagi. Apresiasi itu sebenarnya penting, bagaimana mungkin orang lain akan memberi apresiasi jika kita saja tidak ada apresiasi apa-apa untuk diri kita sendiri.

Di awal tahun 2015 saya kembali mengikuti seleksi untuk mengikuti kegiatan ICN Conference alias Indonesian Culture and Nationalism 2015 di Kampus Prasetiya Mulya Bussiness School Jakarta. Tiap provinsi hanya ada satu orang yang lolos dan alhamdulillah saya medapatkan kesempatan itu dan menjadi delegasi propinsi Sulawesi Tengah. Bukan hanya itu, seorang kakak senior menulis karya tulis dan diikutkan di LKTIN yang diadakan oleh ITB, kali ini kembali  menjadi finalis 10 besar meski kami tak sempat berangkat untuk melakukan presentasi. Selain itu, saya juga sempat menulis karya tulis tentang kemaritiman yang diikutkan di lomba LKTM Tingkat Sulawesi di Makassar. Ditahun yang sama juga saya menulis karya tulis tentang lingkungan untuk diikutkan dalam seleksi Mahasiswa Berprestasi Universitas Tadulako 2015. Pun saya juga kembali menulis Proposal PKM-PE dan alhamdulillah saya kembali dinyatakan lolos sebagai pemenang dana hibah tahun 2015 pendanaan tahun 2016.

Sejatinya pencapaian-pencapaian yang saya capai hingga hari ini tidak ada apa-apanya jika dibanding dengan orang-orang dan teman-teman saya di luar sana. Jadi juara? Gak pernah, paling-paling jadi finalis saja, masih banyak orang-orang yang mungkin sudah bosan dengan predikat juara. Ke luar negeri ? Hingga hari ini pun belum pernah, meski ada segenap cita-cita untuk ke luar negeri terkhusus ke Jepang. Namun, apapun pencapaian-pencapaian saya hari ini saya tetap bangga  dan selalu mengapresiasi (bukan sombong ya!) atas pencapaian saya yang biasa-biasa saja itu. Paling tidak saya sudah berani memulai langkah saya, langkah kedua  dan langkah-langkah selanjutnya. From zero to hero. Alhamdulillah hasilnya lumayan untuk seseorang yang memulai semua dari nol seperti saya. Jika diingat-ingat lagi, saya tak pernah punya pengalaman menulis sebelumnya, pun berbicara di hadapan publlik adalah hal yang jarang saya lakukan sebelumnya, saya selalu mengambil posisi “aman” dan “nyaman”. Hingga akhirnya saya tersadar bahwa saya juga harus keluar dari zona nyaman tersebut. Kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan asalkan kita perjuangkan dengan sebaik-baik perjuangan. Jangan pernah takut bermimpi ! Toh jika bermimpi saja kita takut, bagaimana mewujudkannya?. Percayalah, Man Jadda Wa Jada. Laa takhaf wa laa tahzan innallaaha ma ana.

Lantas, bagaimana kuliah saya ? Ini adalah hal yang selalu menjadi pertanyaan banyak orang. Satu hal yang pasti adalah semua orang menginginkan keseimbangan antar semua bagian. Kuliah saya lancar meski dengan berbagai kesibukan yang ada. Hanya saja harus siap dengan segala resiko-resiko yang mungkin muncul. Kita harus paham bahwa tidak ada suatu keberhasilan yang dicapai dengan cara yang instan. Tinggal bagaimana cara kita menghadapi semua kondisi dan kemungkinan secara bijak.

Pada akhirnya harus tetap kita ingat bahwa hidup itu cuma sekali. Sebanyak dan sehebat apapun prestasi kita, bukankah sebaik-baik makhluk, sebaik-baik manusia dan   sebaik-baik hidup adalah hidup yang bermanfaat untuk orang lain? Apalah arti prestasi jika tidak memberikan kontribusi terhadap bangsa dan negara terlebih agama. Olehnya, ditengah kesibukan saya sebagai mahasiswa jurusan kimia fmipa yang kata orang super sibuk saya juga mendedikasikan diri untuk terlibat dan menjadi bagian  dalam sebuah komunitas sosial bergerak dibidang kebaharian yaitu Rumah Bahari Gemilang. Disitu pulalah saya menghabiskan sebagian waktu  saya meski hanya untuk sekedar berbagi semangat dan harapan dengan mereka yang di tepian pesisir sana. Pun dari sanalah juga saya belajar tentang makna nikmat dan syukur yang sesungguhnya.

Hingga pada akhirnya saya tegaskan bahwa prestasi terbesar saya adalah ketika saya bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain.


Note :
Rukmana Suharta
Malam Jum’at, 10-11-16 (Hujan-hujan di Anak Untad Books and Cafe)
Katamu sahabat itu selalu hadir ditengah duka dan lara maupun sukamu. 
Tapi bagiku tidak. Sahabat adalah yang dia juga memilih untuk tidak menghadirkan diri disaat kamu benar-benar ingin sendirian. Apa kamu tahu rasanya memilih tega untuk membiarkan kawanmu dalam keadaan paling dibawah ? Jika kamu pernah merasakannya pasti bukanlah hal mudah pastinya.. Tapi itulah kenyataannya adakalanya sahabat kita ingin sendirian. Tidak ingin ditanyai. Dia hanya butuh sendirian selama waktu yang dia inginkan..

Katamu sahabat itu adalah mereka yang memiliki banyak kesamaan. 
Tapi bagiku tidak. Tidak harus banyak kesamaan. Tapi cukup rukun dalam perbedaan. Kita hanya membutuhkan satu hal yaitu saling memahami. Sejatinya memahami itu tidaklah hal yang mudah.
Made with AI Image Creator

Hari itu saya dan dua orang teman yang sedang belajar di kampung Inggris Pare berencana untuk berkunjung ke Malang. Bukan untuk sekedar jalan-jalan. Kami menemani salah seorang temanku yang waktu itu berencana akan melanjutkan S2 ke Universitas Negeri Malang. Yaps seperti itulah, UM adalah tujuan utama kami. Mumpung sedang libur. Mungkin sambilannya yah bisa jalan-jalan juga.

Bermodalkan informasi rute yang bisa kami tempuh kami sudah siap untuk berangkat. Karena beberapa saran dari beberapa orang yang saya tanya menyarankan agar sebaiknya untuk orang baru seperti kami hendaknya nyari busnya langsung ke terminal saja. Terminal Pare di desa Tulungrejo ada satu terminal. Kami disarankan untuk naik bus dari sana. Sebenarnya tanpa harus ke terminal juga kami bisa, toh kami juga sudah tahu ciri-ciri bus tujuan Malang. Tapi, karena beberapa pertimbangan akhirnya kami memutus untuk ke terminal saja. Kebetulan kami punya kontak salah satu angkot di Pare, beberapa waktu yang lalu pernah ngantar-jemput kami ke kajian islam Ustadz Hanan Attaqi, Lc di kota Kediri. Langsung saya hubungi kontak tersebut. Tidak berselang lama. Angkotnya sudah ada di depan Camp. Kami langsung go.

Sudah sekitar 15 menit perjalanan. Tapi kok belum nyampe-nyampe. Mata terus saya fokuskan pada maps di HP. Sesekali saya menanyakan pada sopir angkot apakah terminalnya masih jauh atau sudah dekat. Sopirnya hanya menjawab singkat. Tidak lama lagi, begitu jawabnya. Perjalanan sudah 20 menit tapi tak kunjung sampai. Saya mulai sadar. Ini adalah jebakan.

Pak Sopirnya menjebak kami. Kami termanfaatkan. Di awal sudah kami sudah  bersepakat bahwa dia akan mengantar kami ke terminal ke terminal terdekat di Pare, yaitu terminal Pare Kediri di desa tulungrejo yang berjarak hanya 5 km dari lokasi kami. Namun karena kami belum mengenali wilayah disana makanya percaya saja dengan apa yang si supir katakan. Biasanya saya tak pernah lepas dari maps terlebih saat di daerah baru, namun kali ini koneksi internet di hp saya sedang tidak bagus. Dan akhirnya, bukannya diantar ke Terminal Pare Tulungrejo tapi malah diantar ke ke Terminal Kota Kediri. Tragisnya lagi, kami harus membayar biaya angkot Rp20.000/rb. Memang harga yang wajar karena jarak yang sekitar 25 KM dari lokasi kami tadi. 

Saya hanya bisa menggerutu dalam hati. Mungkin bukan hanya saya yang menggerutu dalam hati, mungkin kedua teman juga. Saya tak kuasa melakukan apa-apa. Pengen protes tetapi mendadak wajah Pak Sopir berubah menjadi menyeramkan bagi saya. Yaa, sudahlah sabar saja. Meskipun membuat agenda kami berantakan dan harus membayar biaya angkot yang sama dengan tarif bus Kediri-Pare-Malang.

Bus  sudah berangkat meninggalkan Terminal Kota Kediri saat saya masih terus terpikirkan kejadian tadi. Yaah meskipun sedikit menjengkelkan tapi saya yakin pasti ada hikmah di balik semua kejadian. Hari ini saya belajar bahwa jika nanti ingin  bepergian lagi ke tempat yang baru usahakan untuk  membicarakan tentang tujuan dan tarif  dengan baik dan jelas, jangan takut untuk memastikan berulang-ulang bahwa Supir sudah tahu tujuan kita, usahakan tetap menggunakan maps, dan satu hal penting adalah harus berhati-hati pada orang baru meski kelihatan baik.
03 Februari 2017. Aku pulang ke Desa Pinjan, Kec. Tolitoli Utara, Kab. Tolitoli. Ku jawab pertanyaanmu. Terima kasih atas perhatianmu untuk Indonesia. Aku pulang untuk berbuat meski cukup singkat. Maklum masih banyak hal yang harus lebih dulu ku tuntaskan di tanah rantau ini sebelum aku pulang untuk waktu yang lebih lama. Aku sadar pe er kita banyak. Namun, untuk perubahan yang besar tak selalu dimulai dengan perbuatan yang besar juga tetapi bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kemudian berefek besar.

Bermodalkan sedikit pengalaman dari sebuah komunitas yang berorientasi untuk menyalakan harapan pesisir Indonesia, komunitas Rumah Bahari Gemilang yang ku tergabung di dalamnya. Aku mencoba untuk memulai sebuah langkah kecil dengan menginisiasi sebuah program untuk belajar bersama anak-anak berusia sekolah dasar di daerahku. 

Sedikit bercerita. Aku tak sendirian, bersama seorang partner setia yang juga tergabung di komunitas yang sama. Dia penyuka Purnama hingga nama akun media sosialnya pun diimbuhi dengan kata Purnama diawalnya. Adalah dia Nur Hidayah yang lebih suka dikenal dengan Purnama Hidayah di dunia maya. Selalu saja ada ide-ide yang muncul jika bersamanya. Cukup salut padanya. Termasuk mau mendedikasikan diri untuk membantuku untuk merealisikan program-program yang sejatinya sudah ada dalam benak sejak lama. Aku tahu betul, izin dari orang tuanya hanya 3 hari waktu itu. Pada kenyataannya ada ketambahan waktu 2 hari. Maka kusaksikan waktu itu dia memberi kabar ke orangtuanya untuk terlambat pulang dengan alasan "masih mengajar anak SD" ditengah signal hape yang timbul tenggelam. Tak ku tahu pasti apa saja respon orang tuanya. Tapi yang jelas ada ungkapan sedikit kecewa dari orang tuanya kala itu yang tergambar dari kata-kata seperti "Kalau mau mengajar, kenapa masuk jurusan Kesehatan Masyarakat? Kenapa tidak dari dulu masuk jurusan Keguruan?". Hehehe.. Tapi si Purnama tahu pun aku juga tahu, itu hanya sesaat. Ini untuk agenda kebaikan maka semua pasti akan baik-baik saja.

*********
Suasana menjadi riuh. Terdengar suara anak-anak yang berebut untuk menjawab pertanyaan yang kami tanyakan setiap proses belajar. Maklumlah dengan anak-anak. Apalagi jika diiming-imingi akan mendapat hadiah. Sengaja memang, tak tanggung kami berikan hadiah kepada anak-anak yang aktif. Harapannya mampu membangkitkan semangat mereka. Mungkin di awal memang semangat mereka tak lain adalah karena ingin hadiah. Tapi tak mengapa paling tidak tugas kita yang pertama adalah menjaga semangat dan antusiasme mereka meski dengan iming-iming hadiah. 

Adalah Muhammad Rum alias Alung yang merupakan salah satu anak yang mendapat hadiah apresiasi partisipatif. Alung adalah anak yang paling kecil nan aktif yang selalu hadir dalam setiap aktivitas belajar. Memang Alung terkenal "nakal" pun saat belajar suka sibuk sana-sini,  tidak sedikit teman-teman lain yang juga suka diganggunya. Entah diajak berbicara, bermain atau buku dan pensilnya diambil. Tapi Alung layak mendapat Apresiasi karena selalu hadir dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami berikan. Artinya dia juga menyimak setiap materi yang diberikan meski terlihat "rempong". Aah.. Alung memang nakal. Tapi itulah anak-anak. Hanya perlu waktu dan kesabaran menghadapinya. Aku yakin sedikit lagi Alung pasti akan paham dan tumbuh menjadi anak yang cerdas.
Kiri ke kanan : Reza, Alung, Nur Hidayah
 **********
Pensil 2B yang sengaja teman-teman komunitas kirim untuk hadiah inilah yang kami jadikan hadiah bagi semua yang aktif saat belajar. Pun ditambah dengan paket perlengkapan sikat gigi untuk anak-anak. Beberapa anak-anak yang menjawab mendapat hadiah pensil 2B dan ada juga yang mendapat paket sikat gigi.

Alung mendapat hadiah Apresiasi Partisipatif. Hadiahnya adalah paket sikat gigi. Ku perhatikan satu per satu wajah anak-anak. Raut wajah anak-anak nampak sumringah. Pikirku semua anak-anak pasti senang dengan hadiahnya masing-masing. Ternyata pkirku salah. Nyatanya ada yang protes meski protesnya bukan ke aku dan teman. Protesnya ke tanteku yang waktu itu tinggah di rumahku.

         "Yahh,, saya hanya dapat hadiah sikat gigi dengan odol !", kata Alung dengan wajah murung dan tanpak ogah-ogahan.

          "Lah kenapa? Alung tidak suka hadiahnya? Odol dengan sikat gigi bagus untuk Alung biar giginya sehat", Kata Tante Irma penasaran.

           "Teman lain dapat hadiah pensil saya hanya dapat sikat gigi. Dorang batulis pake pensil baru saya menulis pake apa?", Jawab Alung spontan.

Tante Irma hanya terdiam kemudian berlalu pun karena diburu waktu. Tante Irma menceritakan hal itu kepadaku sesampainya di rumah. Akhirnya beberapa pensil yang masih tersisa  kami berikan saja kepada Alung. Semoga kekecewaannya bisa terobati.

 **********
Belajar banyak dari Alung. Belajar banyak dari Pensil dan sikat gigi. Untuk memberi hadiah ke anak-anak nantinya benar-benar harus tepat sasaran alias memang benar-benar harus sesuatu yang mereka butuhkan. Bukan hanya melihat dari satu sudut pandang seperti harga dan kualitas, tetapi tidak tepat sasaran. Mungkin memang hadiah yang kita berikan harganya lebih mahal, hadiahnya keren, unik, kekinian, canggih tapi apalah artinya jika mereka tidak membutuhkan itu?. Wahai diri,, pe er untuk terus belajar masih banyak pun jangan lelah untuk terus berbagi walau hanya sedikit. Mari melihat segala sesuatu dengan bijak. Bagikan yang bisa kamu bagikan. Sesederhana hal yang dapat kamu bagikan adalah senyum untuk orang lain, untuk Indonesia. Semangat belajar adik-adikku !!! Karena kita semua bisa dan layak bertumbuh menjadi generasi terbaik bagi negara terlebih agama.
Aktivitas di Pantai Pinjan bersama Adik-adik

Adik Nurul dan Nur Hidayah - Ini adalah foto yang diambil pada saat kegiatan belajar bersama adik-adik, proses belajarnya di fokuskan di rumahku karena kondisi kurang memungkinkan untuk menggunakan tempat lain.. Hehe

Kegiatan magrib ceria- kita belajar ngaji dan berkisah tentang para nabi terdahulu

Sholat ashar berjamaah di masjid Taqwa desa Pinjan

Antusiasme adik-adik saat belajar
 
 **********
 Ini adalah celotehmu padaku waktu itu wahai kawanku. Pertanyaanmu sudah terjawab dengan kepulanganku 03-08 Februari 2017 lalu.

"Perjalananmu selama ini sudah cukup jauh. Keaktifanmu di dunia sosial telah mengantarkanmu untuk menjejaki beberapa tempat-tempat yeng terpencil yang nun jauh disana,  yang katamu membutuhkan "sentuhan". Katamu itu bukan sekedar perjalanan biasa. Yah, itu ku ketahui dari hastag yang selalu kau sertakan dalam setiap postinganmu di akun media sosial, #bukanjalanjalanbiasa. Katamu itu adalah jalan-jalan pengabdian. Ketika ku tanyakan "daerah mana saja yang sudah kamu kunjungi?", dengan semangat 45 kamu pasti menceritakan proses panjang perjalananmu. Aah, benar saja, aku salut padamu. Kini giliranku untuk menceritakan fenomena yang sejatinya terjadi di kampung halaman kita. Hehe Aku hanya akan bercerita kepadamu. Tak ada pamrih yang ku harap darimu kecuali jawaban atas satu pertanyaanku. Lantas, kapan kamu pulang?"
Newer Posts Older Posts Home

WELCOME ABOARD!

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Makalrambot Lipu (Teringat Kampung Halaman)
    Lagu-lagu daerah Tolitoli cukup banyak yang menceritakan kerinduan seorang perantau terhadap kampung halamannya, termasuk lagu Makalrambot L...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Lutungan (Patriot Baolan)
    Nah, lagu ini adalah salah satu lagu fenomenal kota Tolitoli karena sering dinyanyikan dalam acara-acara kedaerahan, pun sering juga diperke...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Tinga Kinaaku (Suara hatiku)
    Naah, ini adalah salah satu lagu yang sangat terkenal juga di Tolitoli. Judulnya adalah " Tinga Kinaaku" , atau bisa diartikan seb...
  • Sebenarnya, Apa Alasan Kita Memilih Menjadi Relawan ?
    Menjadi Relawan atau Volunteer adalah sebuah pilihan. Pilihan bagi orang-orang terpilih. Pilihan bagi orang yang mau dan memberanikan...
  • (POHON ASAM) TAK SEPERTI KATA PAK GURU
    Mataku terbuka, ku tengok ke arah kiri dan kananku. Tak ku dapati pemandangan apapun selain ku dapati Kartina yang masih menikmati tidurnya...
  • Kata Kerja Transitif dan Intransitif, Apa Bedanya ?
    Materi Grammar atau aturan penulisan adalah salah satu materi utama dalam belajar bahasa Inggris. Materi verb atau kata kerja pada bagian...
  • NIKAH ATAU LANJUT STUDI, PILIH MANA ?
    NIKAH ATAU LANJUT STUDI, PILIH MANA ?  Nah, kalau kamu dapat pertanyaan yang seperti ini. Kamu akan jawab apa? Pasti mikir keras dul...
  • Cara Bayar SPP Untad melalui ATM BNI
    Tulisan kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai tata cara pembayaran SPP melalui ATM BNI. Selama ini kelihatannya masih sedikit maha...
  • 8 Alasan Kenapa Kamu Harus Ikut Event
    Rukmana (Delegasi Sulawesi Tengah) di  Indonesian Culture and Nationalism 2015 - Galeri Nasional Indonesia - Jakarta Pemuda dan mah...
  • 5 HAL PENTING YANG HARUS DIPERHATIKAN KETIKA MENERJEMAHKAN DARI BAHASA INDONESIA KE BAHASA INGGRIS
    Bahasa Indonesia secara spesifik memiliki perbedaan struktur dengan bahasa Inggris. Olehnya, memiliki kemampuan menulis bahasa Indonesia ...

Categories

Beasiswa 6 Catatan 40 Cerita Saya 37 English Article 2 Kampung Inggris Pare 15 Pojok Umum 33 Refleksi 24 Tentang Toli-toli 8

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  January (1)
      • Bayangan Rasa
  • ►  2025 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  May (3)
  • ►  2023 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (11)
    • ►  December (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2018 (31)
    • ►  December (3)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (30)
    • ►  November (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  May (3)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
  • ►  2016 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (4)
  • ►  2015 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (10)
    • ►  June (3)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  August (1)

Total Pageviews

Contact Form

Name

Email *

Message *

Featured Post

Memaafkan atau dimaafkan bukanlah perihal mana yang lebih baik. Keduanya adalah dua hal yang sama-sama membutuhkan keikhlasan. Kita dilatih ...

rukmana.rs

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates