A Learner's Journal
  • HOME
  • GENERAL
  • REFLEKSI
  • CERITA SAYA
  • CATATAN
  • BICARA LINGKUNGAN
  • ABOUT ME


Taman baca impian…

Sejak masih duduk di bangku kuliah, cita-cita untuk bisa memiliki sebuah taman baca impian atau sederhananya perpustakaan mini di kampung, paling minimal di rumah.  Besar harapa agar buku-buku yang tersedia disana bisa bermanfaat untuk penduduk disana, mampu menjadi tempat nongkrong bernutrisi untuk orang-orang dikampung.

 

Beli buku pake uang beasiswa…

Atas dasar niat itulah akhirnya saya selalu menganggarkan sejumkah uang dari beasiswa untuk membeli buku-buku baik sesuai minat  ataupun buku yang lainnya, minimal 1-2 buku per bulan. Walau faktanya koleksi buku saya kebanyakan buku tentang motivasi dan self-improvement. Maka jelaslah, PR saya kedepannya masih banyak. Melengkapi koleksi dengan tema yang lebih beragam.

 

Beberapa tahun berlalu, mimpi kecil ini masih terbelenggu akibat kesibukan wara wiri. Memang, semua buku-buku selama kuliah sudah terkumpul dirumah, tapi belum tertata rapi. Masih bingung juga harus saya tempatkan dimana sebelum saya putuskan untuk meletakkannya tepat di ruang tengah, di pojokan, berhadapan dengan TV.

 

Nyimpan buku di ruang tengah..

Awalnya agak sangsi untuk menempatkan buku-buku ini d ruang tengah, karena ini adalah ruang yang cukup terbuka di rumah, siapapun yang dating pasti langsung melihat, banyak yang lalu-lalang terutama krucils. Khawatirlah pasti, jangan sampai mereka merusak buku-buku kesayangan saya ini wkwkwk apalagi selalu saya tinggal dalam jangka waktu yang tidak singkat..

 

Ada buku yang dibaca..

Beberapa waktu akhirnya saya pulang setelah 7 bulan tidak di rumah. Seperti biasa saya akan mendengar banyak cerita dari Ibu tentang apa yang terjadi di rumah selama itu.

 

“Oiya, selama kamu disana, itu ada tante-tantemu yang datang dan lihat-lihat bukumu. Awalnya mereka hanya lihat-lihat tapi lama kelamaan dia mulai baca. Kadang ambil satu buku dibawa pulang ke rumahnya. Terus pas sudah selesai dibaca, dikembalikan, baru ambil lagi yang baru. Begitu seterusnya..”

 

“Oh gitu ya ma. Terus-terus…”

 

“Iya. Kadang Papa Devi juga datang pinjam terutama yang buku-buku agama”

 

Dari sini saya mulai sadar kalau sebenarnya buku-buku yang saya tata ditempat yang mudah terlihat ini ada gunanya juga dibanding hanya tersimpan di kamar atau kardus.

 

Bahagia sesederhana ini…

Saya semakin sadar, untuk mewujudkan impian saya itu bisa dimulai dari hal sederhana ini. Tujuan utamanya agar dibaca oleh banyak orang, dan perlahan keluarga mulai “tertarik” dengan pajangan buku di rumah, walaupun banyak juga masih sekedar lihat-lihat sambil bilang ke anaknya :

 

“Nanti kalo besar rajin-rajin baca buku ee”

 

Rasanya? Bahagialah melihat pemandangan itu. Sesimpel itu ternyata sudah buat Bahagia.

 

Lantas, langkah selanjutnya?

Kalau lagi di rumah, kebetulah saya selalu dibuntuti oleh 2 krucils, Diva (Kelas 2 SD) dan Nazia (Kelas 1 SD), dan kadang-kadang Reza (Kelas 4 SD) dan Rizal (Masih PAUD) (kalo ini sih banyak ngerusuhnya wkwkwk). Dikesempatan ini, sayamulai memperkenalkan dan mendekatkan mereka pada buku, mulai melibatkan mereka dalam menata buku-buku di rak misalnya atau sekedar membuka lembaran-lembaran buku. Untungnya juga, ada beberapa buku yang friendly untuk anak-anak seusia mereka shingga mereka mudah diarahkan. 

Oiya saya mengajak mereka belajar di rumah saat tak punya kelas belajar dengan guru mereka di rumah selama pandemic Covid-19 ini.



Yang paling pokok adalah ketika mereka datang langsung saya arahkan pada buku, bagaimanapun caranya.


Kadang mereka merasa takjub dengan buku-buku tersebut.

 

Diva dan Nazya (Itu sampe putih kayak adonan karna mereka sendiri yang iseng pake bedak sampe setebal itu, wkwkwk) 

“Wih, bukunya banyak.. Punya kakak semua ini? (pasang ekspresi kaget)”

 

“Memangnya sdh abis dibaca semua ini?”

 (Belomlah dek, saya saja masih berjuang  :D)

 

Disini, saya pengen tekankan bahwa yang terpenting adalah membiarkan mereka terpapar buku-buku dulu. Lama kelamaan, pasti mereka akhirnya penasaran sendiri, mulai membaca, jatuh hati dan pada puncaknya akan menjadi habit yang akan terus melekat..

 

Gak khawatir bukunya di rusak anak-anak?

Khawatir sih iya. Tapi saya yakin kalo dikontrol dengan baik pasti aman kok. Kalo di pengalaman saya pribadi, kebetulan anak-anaknya sudah bisa diarahkan. Kalo emang masih terlalu dini, yaa penataannya harus lebih kreatif agar tidak mudah dijangkaku anak-anak dan bukunya cacat.

 

Gimana kalo bukunya gak dikembaliin?

Nah, ini masalah nih. Maka, sebaiknya buat pencatatan yang baik agar kalo si reader lupa mengembalikan kita bisa memintanya kembali dengan cara baik-baik. Kalo emang bukunya sudah ga ada, yaa harus ikhlaskan. Semoga ada yang menemukan dan membacanya.

 

Nah, emang untuk mewujudkan impian kita tidak selalu mudah, namun bisa kita mulai dengan melibatkan orang-orang terdekat kita.

 

Bismillahirrahmaanirrahiim…



Pernah gak kita ngerasa kepo maksimal dengan kehidupan seseorang ? (Kalo saya sih.. Pernahlah.. tapi duluuu ckckck) Kita kok seolah penasaran banget melihat aktivitas orang lain yang antimainstream dari orang lain pada umumnya, yang kelihatannya santai, travelling sana sini, gak ngantor, dll. Sampai akhirnya kita sampai pada asumsi bahwa ngapain sih orang tersebut spending terlalu banyak waktu hanya untuk hal-hal yang kita anggap useless seperti itu.

Kita akhirnya geram sendiri dengan kehidupan mereka. Men-judge mereka gak punya tujuan hidup yang jelas. Akibatnya, jika mereka adalah orang terdekat kita pasti kita akan sangat sibuk untuk men-direct mereka pada tujuan yang menurut kita adalah “yang terbaik”. Padahal tidak ada jaminan bahwa itu adalah sesuai dengan values atau visi hidup mereka. Kita seringkali memaksakan takaran personal untuk diterapkan dalam hidup orang lain.


Kita hampir melupa atau sengaja pura-pura lupa bahwa tidak semua orang mau menceritakan planning besar dalam hidupnya ke kita, sekalipun kita adalah orang terdekat dia. Jadi, mending focus pada goal pribadi kita. Lagipula, setiap orang pasti punya tantangannya masing-masing.


Yaa. Bolehlah memberi pandangan tapi arahnya bukan langsung men-judge semau hati padahal mungkin kita hanya tahu kulit-kulitnya saja dari rencana hidup mereka. Bantulah dengan doa semoga ikhtiar mereka dimudahkan jalan-Nya.


Kalo sebaliknya gimana? Pernah gak pada posisi menjadi orang yang dikomentarin? Rasanya rasanya?


Pernah banget dan itu rada nyessek dong. Pernah dan sering diprotes karna pengennya sekolah, sekolah dan lanjut sekolah terus dan sempat dengar komentar bahwa “gak punya tujuan yang jelas”.


Banyak yang bilang ntar sia-sia saja kamu lanjut sekolah terus, mending kamu diam di kampung, daftarCdaftar (mumpung ada orang dalam katanya) biar bisa bantu keluarga.. Atau.. Ada juga yang bilang bahwa  usia kamu nambah terus loh tiap hari tapi ga nikah-nikah, yang lebih muda dari kamu saja rata-rata udah berkeluarga dan punya lebih dari satu anak, nah kamu ? Pacar mana pacar? Pacar aja ga punya. Jalan terus saja sana sini.. Ya wajarlah jodohnya ga datang-datang.


Itulah beberapa cuitan yang paling sering terdengar..


Sayangnya, mereka semua adalah orang yang tidak memahami ku sepenuhnya, tentang  seseorang yang selalunya mau berjuang diam-diam, tidak ingin disoroti, yang gamau banyak ngomong ke orang-orang selagi targetnya belum tercapai.. Iya tetap ngomong sih ke beberapa orang terdekat yang dianggap bisas dipercaya.


Mereka gak paham hal besar yang tengah kita perjuangkan dengan menjalani pilihan saat ini, studi pada setiap jenjangnya. Mereka gak paham bagaimana kita berusaha untuk menempuh jalan yang sebenar-benarnya untuk sebuah posisi pekerjaan terlebih jika itu jabatan seumur hidup. Mereka gak paham seberapa keras kita berusaha agar jalan menuju pernikahan yang kita impikan adalah jalan yang baik dan benar yang diridhoi Tuhannya.


Nah, kita akhirnya paham bagaimana buah dari giringan opini miring yang bisa jadi kita temui. Irritating. Jadi, sebaiknya aktifkan rem diri sebelum mengomentari apalagi menghakimi kehidupan orang lain. Jadilah bijak, saling menghargai. Setiap orang berhak menetapkan circles dan boundaries dalam hidupnya.


(Menulis sebentar di 03 September 2020)

Pukul 12.05 p.m. - WITA

Staff photo by Nicolaus Czarnecki/MediaNews Group/Boston Herald
Recently, the pandemic of Corona Viruses has been rapidly spread worldwide so that most believe that the best way for reducing this issue is by staying at the current location, particularly for students pursuing their education far away from home, even abroad. I personally disagree with this due to the physical and mental conditions of the students that have to be maintained. This essay will discuss the effects in physical conditions, such as eating habit and sedentary lifestyle and afterwards the mental impacts like loneliness and anxiety.

On the one hand, corona pandemic has gradually changed some of students eating habits. Honestly, this situation should switch them to consume more healthy foods, such as vegetable supplying nutrients for the body and strengthen the immune system but the condition is vice versa. Students, particularly those having no ability to cook, are more likely to stock shelf-stable food or instant food, which is always associated to unhealthy food, to consume along the pandemic. Inevitably, it also imposes students to stay at home causing the inclination of utilizing online services for buying; henceforth it will likely undermine their working out routines, then changing them to be sedentariers  resulting in obesity. 


On the other hand, mental health is also one of the important considerations for students who decide to return to their hometown. Feeling insecurity and anxiety owing to loneliness  during the pandemic can be more dangerous than infected by the Covid-19. Students isolate themselves only in a small room in their boarding house, the place where majority students live, make no direct-interaction to the vicinity, and have no family to support and interact. It time by time will irritate them, afterwards bring them to huge loneliness that might affect their performance in workplace or school although it is merely online. In addition, those who stay at the red-flagged area and always follow all updated-covid19-news whether good news or not, are too vulnerable to suffer anxiety attack because none can pacify them. Finally, they are more possessed by the negative emotions.


As a conclusion, owing to the spreading of the Covid-19 Viruses, it does not mean the students should stay where they are, in their current situation. By staying at their current location, students might experience the awful physical condition due to the lack of foods and activities, as well as the terrible psychological condition that affects their mental health. Therefore, to reduce virus transmission, the students should obey all safety regulation arranged by the government when travelling back to hometown and also keep maintaining their physical and mental health everywhere and every time.

Lagu Potulrumo Dedekku (Tidurlah Anakku) ini bercerita tentang seorang Ibu yang berusaha menidurkan anaknya yang terus menangis ketika Ayahnya sedang pergi melaut. Silahkan dengarkan lagunya disini.



Potulrumo dedekku kaasi
Tidurlah anakku

Potulrumo kiloman mata
Tidurlah, pejamkan matamu

I amangmu nalrako mbang dei sasik
Ayahmu sedang pergi melaut

Kodong mpossumboo kita dedek
Mencari nafkah untuk kehidupan kita


Dedekku kaasi kena mosumangitna
Anakku, janganlah menangis

Inangmu tatakin dei impidmu
Ibu menemani di sampingmu

Potulrumo dedekku kaasi
Tidurlah anakku

I amangmu damo bubulri ai
Ayahmu pasti segera pulang


Pongupianmo mongopolre dedekku
Bermimpilah yang indah anakku

Dongnamo susata talribta
Biarlah derita ini kita hadapi

I amang-inangmu tataakin doa
Ayah dan Ibumu senantiasa berdoa

Mogolre doa possumboo dong masanang
Berdoa memohon kehidupan yang lebih baik


*Disclaimer :

Ini diterjemahkan berdasarkan pengetahuan saya pribadi sebagai salah satu (agak) native speaker Bahasa Tolitoli ðŸ™‹.. Sengaja tulis ini karna rasanya sekarang masih agak sulit menemukan lirik lagu-lagu daerah Tolitoli (apalagi beserta artinya) di dunia per-google-an.. Oiya, saya sangat terbuka dengan saran dan kritik teman-teman yang mungkin sedikit banyak lebih paham dengan Bahasa Tolitoli atau "Tinga Totolri" ini.  Yuk yuk, kita lestarikan Bahasa Tolitoli kita ini...


It is undeniable that recently facts in some countries visualize  the small number of pupils  learning science subject. This issue is led by two core reasons and has several  impacts on people social life.

In terms of cause, an assumption saying that science is difficult course might be the first possible reason. Due to the study conducted by several scientists in the US, it is revealed that science is the most intricate subject to study amongst others. Studying scientific field like chemistry, physics, and astronomy becomes hard as it is too emotionally and physically demanding course, especially for cognitive skills, which forces students to do analyses and interpretation, even it in turn has them stay a whole day in laboratory . As a consequence of this phenomenon,  this belief encourages people’s reluctance to learn science in schools. Time by time, this opinion spreads widely, increases insecurity, and make people assume that only intelligent human being can apply for this subject. Unfortunately, this becomes inherent.

Another prospective cause is the circumstances which might not be science-oriented. The researchers also believe that preference on specific subject can be heritable so that  If someone did not live in the area surrounded by scientific atmosphere such as watching scientific TV program regularly and carrying out severe experiments, it would lead them out of science. This issue is then responsible for the lack number of scientist. In this case, most will be more tempted to study for what they are familiar with such as history, art, media, and humanity, while science as the equally crucial knowledge is left far behind. In the end, the possibility to result in new scientists would slightly disappear.

In conclusion, science is not the popular subject at schools due to its difficulties, which lead to reluctance in society,  and its unpopularity in surroundings, which could worsen the quantity of science experts.

Seiring bergulirnya waktu, maka setiap kita pasti akan meniti hidup di masa yang tidak sama, dalam keadaan yang berbeda. Akan ada masa usia semakin senja karena bumi semakin tua. Banyak yang hilang dan berganti, pada siklusnya. Hingga pada puncaknya kita akan tiba pada masa pensiun.
Bagaimana dengan ativitas kebaikan ? Kita tidak seharusnya pensiun dari medan kebaikan karena hal tsb adalah pengabdian seumur hidup. Jika pun, maka terputusnya mata rantai sejarah adalah efek yang ditimbulkan.

Ibarat sebuah pucuk pada ranting. Semakin lama, pucuk akan terus bertumbuh hingga menjadi daun tua, lalu menguning hingga akhirnya gugur. Dedaunan gugur ini akan membusuk dan terfermentasi menjadi pupuk yg dibutuhkan oleh pertumbuhan ranting sebelum akhirnya pucuk baru menumbuh.
Hal ini sama dengan kebaikan. Tidak ada kata pensiun, yang ada adalah pergantian bentuk peran, dari masing-masing generasi.  Setiap kita memiliki posisi tersendiri untuk tetap terlibat dalam kebaikan bahkan meski kita tidak di tempat yang sama karena esensi utamanya adalah dampak yang mampu mensejahterakan.
 
 Olehnya, yang harus kita lakukan adalah memaksimalkan keteladanan bagi generasi selain kita, generasi baru, bahwa tidak ada hal lain yang lebih baik selain dengan senantiasa memberikan contoh militansi perjuangan dengan segenap titik usia kita, hingga kematian menjemput.
Tanamkan dalam diri kita bahwa tugas kita BUKAN SEKEDAR MELAKUKAN KEBAIKAN, TAPI MENYEBARKAN SERTA MEMASTIKAN SEBUAH KEBAIKAN TETAP BERKELANJUTAN..

BTW, TERIMA KASIH 2019.... ASSALAMUALAIKUM 2020..

[ Rukmana Suharta ]
Selasa, 31 Desember 2019 - Pukul 23.40 WIB. 
Ciputat. Tangsel, Indonesia

Demi memprioritaskan utk dapetin beasiswa, memilih untuk pulang setelah resign dari tempat kerja sekaligus belajar, 6 bulan lalu, setelah ragam pertimbangan yang cukup pelik menjadi pilihan saya. Ada banyak resiko pastinya. Tentu saja, hal yang paling nampak adalah resminya saya menjadi Generasi Rebahan alias Pengangguran selama beberapa waktu. Tanpa penghasilan (ada sih tapi tidak seberapa), hanya bergantung pada orang tua (kebetulan waktu itu saya memilih untuk pulang ke rumah untuk membersamai keseharian Ibu Bapak setelah belasan tahun tak bisa sedekat itu ).

Efeknya pun sangat menguji kesabaran. Cerita2 pro maupun kontra langsung menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru kampung. Beragam asumsi pun tercipta dan yg sangat memicu emosi adalah isu bahwa saya sempat “berkasus dan diberhentikan scr tdk terhormat” sebelum pulang. Apa yang saya rasakan, emosi pasti iya. Baper? Sampai-sampai ga mau keluar rumah selama seminggu, sebelum akhirnya saya sadar bahwa SIKAP SAYA BUKANLAH SIKAP KECUALI SIKAP SEORANG PENGECUT. Ngapain saya baper? Toh faktanya bukan seperti itu. Aduh.. Kok kamu bisa terjebak dalam jajahan pendapat orang lain? ... Apakah kamu seorang pengecut? Yaa jelas gak mau dong...  Astagfirulllah...

Ini sangat challenging memang. Butuh strategi agar mental tidak terenyuhkan oleh komentar miring warga masyarakat yang akhirnya bisa mematikan idealisme dan optimisme kita sehingga kita bisa tetap menegakkan badan, menata langkah dan menatap tajam untuk meraih goal utama kita. MASA IYA KITA SIBUK NGURUSIN APPROVAL ORANG LAIN?

Yup. Benar. Saya memilih untuk resign dari pekerjaan agar lebih well-prepared ketika mengikuti tahapan seleksi beasiswa karena memang kondisi yang juga dalam bekerja pada saat itu menyulitkan saya untuk proses pendaftaran. Sekali lagi, ini tidak untuk dicontoh sebenarnya, karena banyak juga yang berhasil sembari melakukan keduanya. Tinggal pandai-pandainya kamu saja... Tapi, yang pasti adalah You only have 2 choices, TAKE THE RISK OR LOSE THE CHANCE..

Alhamdulillah, setelah saya take the risk, I get the chance to be an awardee of LPDP Scholarship 2019 (Semoga Allah terus memudahkan proses kedepannya)..

Ingat, menjalani skala prioritas tidak semudah ktika menentukannya. Semua punya enormous risks yang hanya kamu yang tahu solusi terbaiknya. Satu hal penting yang juga harusnya selalu diingat adalah cobalah untuk meluangkan diri utk MENGAMBIL HIKMAH DARI SETIAP KEJADIAN YANG KAMU ALAMI. YAKINLAH, PASTI ADA PELAJARAN DARINYA YANG MAMPU MEMBUATMU MENJADI MANUSIA YANG LEBIH BERSYUKUR DAN SENANTIASA WARAS DALAM MENJALANI KEHIDUPAN..
Newer Posts Older Posts Home

WELCOME ABOARD!

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Makalrambot Lipu (Teringat Kampung Halaman)
    Lagu-lagu daerah Tolitoli cukup banyak yang menceritakan kerinduan seorang perantau terhadap kampung halamannya, termasuk lagu Makalrambot L...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Tinga Kinaaku (Suara hatiku)
    Naah, ini adalah salah satu lagu yang sangat terkenal juga di Tolitoli. Judulnya adalah " Tinga Kinaaku" , atau bisa diartikan seb...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Lutungan (Patriot Baolan)
    Nah, lagu ini adalah salah satu lagu fenomenal kota Tolitoli karena sering dinyanyikan dalam acara-acara kedaerahan, pun sering juga diperke...
  • Sebenarnya, Apa Alasan Kita Memilih Menjadi Relawan ?
    Menjadi Relawan atau Volunteer adalah sebuah pilihan. Pilihan bagi orang-orang terpilih. Pilihan bagi orang yang mau dan memberanikan...
  • CERITA LPDP : Jadi, sebenarnya begini...
    Pada hari itu, Selasa, 14 Agustus 2019, hanya ada perasaan sangat puas ketika keluar dari ruang wawancara 1 yang kata kebanyakan orang...
  • Anak adalah Perekam Hebat
    Sudah seminggu lebih keberadaanku di rumah, di kampung halaman, kampung halamanku yang sesungguhnya. Aku tahu betul kalau  selama ini kebany...
  • KAOS KAKI IDENTITAS
            H 28 Ramadhan 1436 H, tempat aku dan teman magang sudah memasuki waktu libur. Pagi itu kami pergi ke sebuah pasar tradisional y...
  • RENCANA HATI
    Aku bahagia di jalan ini.. Jejaki kehidupan setia dengan proses.. Meski kutahu sempurna bukan milikku.. Yah, aku hanya menjejaki pros...
  • Tujuh Hari Menuju Belanda
    Merencanakan banyak hal di masa yang hampir segalanya tak terprediksi bukanlah hal mudah. Niat akan teruji karena ketidakpastian yang memben...
  • LUAR NEGERI ITU PALU
          Sebuah pengalaman tak terlupakan hidup selama 3 hari di sebuah pulau nun terpencil di sebuah pulau di daerah kabupaten Tolitoli Sulaw...

Categories

Beasiswa 6 Catatan 40 Cerita Saya 37 English Article 2 Kampung Inggris Pare 15 Pojok Umum 33 Refleksi 24 Tentang Toli-toli 8

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  January (1)
      • Bayangan Rasa
  • ►  2025 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  May (3)
  • ►  2023 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (11)
    • ►  December (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2018 (31)
    • ►  December (3)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (30)
    • ►  November (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  May (3)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
  • ►  2016 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (4)
  • ►  2015 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (10)
    • ►  June (3)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  August (1)

Total Pageviews

Contact Form

Name

Email *

Message *

Featured Post

Memaafkan atau dimaafkan bukanlah perihal mana yang lebih baik. Keduanya adalah dua hal yang sama-sama membutuhkan keikhlasan. Kita dilatih ...

rukmana.rs

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates