A Learner's Journal
  • HOME
  • GENERAL
  • REFLEKSI
  • CERITA SAYA
  • CATATAN
  • BICARA LINGKUNGAN
  • ABOUT ME

Baru saja saya merebahkan diri di ranjang di kamar penginapan di  penginapan Beyazit Old Town, Fatih, Istanbul, Turki, hari itu, ketika tiba-tiba saya menyadari hal yang membuat saya panik. Perasaan santai sebelumnya tiba-tiba hilang. 
Mencari hape, membuka dokumen hasil PCR saya tadi pagi dengan harapan bahwa kekhawatiran saya ini  tidak benar. 

Perasaan saya mulai dag dig dug karena ternyata benar, waktu yang tertera di surat tersebut tidak sesuai ekspektasi saya... Oh nooo! Apakah ini pertanda 😒....

Oke Na tenang, ga boleh panik! 👻

Saya menarik napas lalu  memikirkan langkah apa yang harus saya lakukan. Sebagai upaya pertama, saya mencoba menghubungi call center Laboratorium tempat saya melakukan tes tersebut. Dengan harapan bisa mendapatkan respons dan kepastian yang cepat, saya memilih menghubungi via telepon. Ada 3 nomor tertera di website mereka. Yess, teleponnya berdering dan langsung di angkat..

Suara telpon : Merhaba! bla bla bla....... (Cukup panjang kalimatnya dan ga ngerti ngomong apa, cuma ngerti Merhaba doang wkwkwk..)
Saya : Good evening! Can you speak English?

dannn, teleponnya langsung dimatikan unexpectedly.

Tidak menyerah. Saya mencoba menghubungi nomor lainnya. Yaa kali aja memang nomor itu buat panggilan lokal saja.  Ternyata, hasilnya tetap nihil alias ga diangkat hihihi...

Saya menarik napas panjang, mencoba memikirkan alternatif lainnya..

Di waktu bersamaan, Hp saya berdering, ada SMS masuk yang berisi pesan dalam bahasa Turki yang artinya adalah silahkan menghubungi via chat SMS atau WA.

Yes! Masih ada harapan.  Seketika saya sampaikan case saya dalam bahasa Inggris, rupanya mereka ga paham dan meminta menggunakan bahasa Turki (dalam hati kenapa mereka ga pake google translate aja sih ckckck).. Okay. Bermodalkan google translate, saya translate-lah ke dalam bahasa Turki dan langsung mengirimnya tanpa ada sedikitpun proses editing. Wkwkwk.. Saya ga yakin apakah maksud saya akan mereka pahami atau malah dimaknai berbeda oleh mereka, dannn rupanya dugaan saya benar wkwkwk. Akhirnya, mereka bilang "oke, kalau mau bicara panjang lebar silahkan datang ke lab besok pagi".

beberapa kutipan percakapan..

Semalaman saya ga bisa tidur tenang, tak sabar menunggu pagi. Apa iya saya harus tes PCR lagi? .. Yang masalah bukan pada harus tes lagi, tapiii harus bayar lagi.. Sekali tes saja sudah 25 eur (app. Rp450K). Kann sayang bangett yaa..

Besoknya masih pagi sekali sya sudah siap-siap dengan begitu banyak harapan. Semoga saja disana petugasnya bisa bahasa Inggris biar enak ngejelasinnya. 

Masih sekitar jam 7.30 pagi saya sudah siap, berjalan sekitar 300 meter menuju stasiun metro Beyazit yang letaknya sangat dekat dengan Grand Bazaar, lalu menunggu metro tujuan Kabatas. Sekitar pukul 8 saya turun di stasiun Tophane. Lalu melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki menuju laboratorium Cihangir. Jalan dari stasiun Tophane yang menanjak ini membuat perjalanan yang cuma beberapa ratus meter ini cukup membuat keringat bercucuran..

Yup. kini, saya sudah sampai. Bertemu dengan petugas yang kemaren. Lalu mencoba menjelaskan kembali.

Baru juga mengatakan beberapa kalimat si embak-nya terus menebak saya maunya apa.. "You took PCR yesterday, so do you want the paper result?", "No!" Saya lanjut ngejelasin..., "Yes, the result has been available since yesterday!", "No! It doesn't what I meant..". What happened next adalah si embaknya diam aja, dan ngomong pake bahasa Turki ke teman disampingnya..

Okay. I have no other choice. Harapanku pupus saat itu, dan langsung bilang "Okay, I will take the PCR test again then!".. 

Ga lama kemudian, tes selesai, dan saya langsung meninggalkan lab tsb tanpa sepatah katapun karena sebenarnya dalam hati Kumenangissssss....!.. Tapi seriously, saya beneran nangis waktu ituu.. Nangis sambil ketawain diri sendiri 😂😆😪......

____

Wait.. wait.. Sebenarnya, apasih yang terjadi? Ga ngerti nih dari tadi...
Jadiiii... Salah satu persyaratan penerbangan untuk balik ke Belanda dari Turki adalah dokumen covid entah itu sertifikat vaksinasi, pulih dari covid atau PCR/Rapid Test. Sebenarnya, status saya sudah fully vaccinated tapi belum bisa mengakses sertifikat vaksinasi saya gegara DigiD number (Belanda) saya belum ada, sementara utk aktivasi dari luar Belanda itu agak lama. Saya sudah mencoba meminta alternatives ke call center DigiD Belanda sampe ngisi pulsa berkali-kali karna tarif panggilan internasional yang harganya ga kaleng-kaleng (pas akhir-akhir baru tau kalau ada paket panggilan internasional khusus yang lebih murah berlipat-lipat), dan ternyata tetap ga bisa..

Nah, mau ga mau saya harus PCR (PCR berlaku 48 jam sebelum keberangkatan). 2 hari sebelum keberangkatan saya melakukan tes PCR. Saya sudah memperkirakan agar melakukan tes di sekitar jam 10.40 a.m agar memenuhi 48 jam sebelum penerbangan (Jadwal penerbangan saya 10.35 a.m).. Tapii, ketika saya melihat keterangan hasil PCR saya, disana tertera jadwal test itu 10.28.. It means itu sudah lebih dari 48 jam :) , meski cuma lewat 7 menit tetap saja sudah lewat.. 

Saya sempat googling apakah ini bisa dipake atau tidak, dan akhirnya saya  menyimpulkan bahwa ini too risky alias terlalu beresiko, mungkin kita akan bebas dari pemeriksaan yang super ketat kalo lagi beruntung tapi kalo enggak (dan saya termasuk yang mendapat pemeriksaan super ketat itu)? Masa iya gagal balik ke Belanda gegara itu, terus harus PCR dan beli tiket lagi, nyari penginapan plus makan dsb... Kebayang kan betapa beresikonya....

Upaya yang saya lakukan adalah mencoba menghubungi pihak lab dengan harapan mereka bisa memperbaiki waktu tes tersebut karna pada waktu itu saya juga perhatiin waktu.. Tapi, rupanya itu tak semudah bayanganku karena kendala bahasa. Entah saya yang tidak bisa menjelaskan maksud saya dengan baik dalam bahasa Inggris sehingga mereka ga paham maksudku apa, atau mereka juga yang bahasanya terbatas sehingga banyak misinterpretasi. Intinyaa, masalah bahasa itu krusial banget... Oleh karena itu, jadinya saya jadi tes PCR lagi dan bayar lagiiii. Harus bayar 25 eur lagi hanya gegara 7 menit...Nyessekkklahh... Pun, jadi keinget pepatah "time is money", dan inii beneran time is money.. 7 menit sama dengan 25 eur...
_____

Saya tak langsung pulang untuk menghibur hati saya yang lagi sedih itu wkwkwk.. Saya turun di halte dekat Galata bridge lalu berjalan menyusuri jembatan tersebut ala-ala turis hahaha.. Singgah sebentar menjadi pawang burung alias membuat burung-burung beterbangan pake stick GoPro yang saya bawa ketika ada yang mau foto di sebuah lokasi dekat jembatan (lupa nama tempatnya), sampe-sampe ditegur sama bapak-bapak penjaga yang dari tadi ngasih makan burung-burungnya.. Maaf yaa pak!..

Setelah jadi pawang..

Perjalanan berlanjut menuju KFC dekat stasiun metro Eminonu, pesan ayam goreng di KFC dan tetap  dikasi Cola meski sudah menolak. Lalu melanjutkan perjalanan menuju Hagia Sophia sambil Video Call dengan Miss Iker, yang dilengkapi dengan drama Cola tumpah di jalan gegara embun yang membuat paper bag saya  basah dan bocor.. Untungnya, ayam-nya ga kenapa-napa dan Ibu-ibu yang lagi didekatku memberi tissu 😆... 

Saya memilih untuk  nongkrong dulu di depan Sultan Ahmet Camii dan Hagia Sophia sebelum kembali ke penginapan karena harus ngisi webinar. Saya sendirian karena 2 teman saya sudah balik duluan 2 hari yang lalu..


Aaahhh.. Dibalik  segala yang sudah terjadi sejauh ini, rasanya sedih ketika harus segera meninggalkan kota ini. Saya sudah jatuh cinta dengan kota ini. Pengen balik lagi untuk belajar lebih banyak hal lagi, somewhile with someone in my future life #eaa...

Hari ini adalah hari ketiga kami di Istanbul, Turkey. Eyüp Sultan camii adalah tujuan utama kami hari ini. Berdasarkan sejarah, masjid ini adalah  masjid pertama yang dibangun setelah Emperium Usmaniyah menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453 dan menggankti nama Konstantinopel menjadi Istanbul, yang dimaksudnya sebagai bentuk penghormatan kepada Ayub Al-Anshari r.a. Tapii, tulisan ini belum akan membahas sejarah masjid ini by the way, karena penulis masih sedang dalam proses literatur review untuk memahami lebih dalam tentang sejarah masjid ini termasuk sejarah penaklukan Konstantinopel secara lebih detail.. Takut salah ngomong... ckckck.. 

Anyway, metro adalah pilihan transportasi kami hari ini, yaa hitung-hitung nambah pengalaman naik metro di Istanbul. Tentu saja, karena akan menaiki metro maka kami harus mempunyai Istanbul Card. Awalnya, kami pikir bahwa satu kartu bisa digunakan oleh beberapa orang. Tetapi rupanya kami salah karena ternyata setiap kami harus memiliki kartu masing-masing.. 

Istanbul Card kini sudah di tangan setelah mendapatkan bantuan dari mba-mba di area ticket machine. Sebenarnya bisa aja sih melakukannya sendirian tetapi  untuk lebih memudahkan kenapa, tidak meminta bantuan mbaknya. Kami membeli 3 Istanbul Card dan di top up masing-masing sekitar 10 lira. 

Waktu itu kami menunggu metro di stasiun sultan ahmet. Jika kesulitan sebenarnya cukup mudah untuk mencari bantuan ketika kebingungan terutam di daerah-daerah banyak turis, termasuk kawasan sultan ahmet ini. Gimana enggak, orang ini terletak di dekat 2 iconic places of istanbul yaitu Sultan Ahmet Mosque atau Blue Mosque yang sekaligus berhadapan dengan Hagia Sofya. Mereka memakai baju berwarna biru yang bertuliskaan "how can I help you? (kalo ga salah, ini sedang mencoba mengingat ckckck)".

Yess. Waktunya berangkat. Kami bergegas menuju  halte dan berniat menunggu metronya tiba. Ternyata, kami masuk dari gerbang yang salah. Halte tempat seharusnya kami menunggu metro ada di seberang. Kami menanyakan kepada petugas tadi dan mereka mengatakan bhawa kami bisa langsung aja pindah ke halte seberang tanpa harus nge-tap tiket lagi karna sudah sebelumnya.

Petugas di halte seberang menatap dengan tatapan penuh inspeksi ke arah kami ketika kami berpindah ke halte tersebut. Lalu, mendekati kami dan berbicara panjang dalam bahasa Turki. Dia ngomong apa, wallahu`alam, kami ga ngerti, intinya dia mengusir kami dari halte metro dengan cara paksa. Kami sudah mencoba menjelaskan dalam bahasa Inggris keadaan sebenarnya, namun dia tetap tegas seolah tak ingin mendengar apapun yang kami katakan. Saya ingat benar, perkataan yang keluar dari mulutnya yang kami paham artinya adalah dia mengatakan dengan suara keras dengan wajah mulai gusar ketika dia telah membuka gerbang bagi saya dan mbak Nur, tetapi saya masih bertahan dan tak mau keluar. "Madam, please go outside!" begitu katanya. Akhirnya saya ngalah, dan keluar juga. 

Pantang menyerah. Salah satu teman kami, Aginta, meminta petugas lainnya untuk membantu menjelaskan ke mas-mas yang ngusir kami tadi kejadian yang sebenarnya. Beberapa waktu kemudian, salah satu petugas lainnya mendekati si mas-mas tersebut dan memberikan penjelasan dalam bahasa Turki. Finally, kami diizinkan masuk dan mas-mas tadi tak berkata-kata lagi dan hanya memandangi kami dari pos jaganya, dan membiarkan kami naik Metro untuk melanjutkan  perjalanan kami hari itu.. Ternyata si mas-mas tadi kurang paham Bahasa Inggris, dan setelahnya pun (mungkin) dalam hati dia berkata "Oh ternyata maksudnya gitu!"..

Apa pelajaran hari ini? Ini membuat kita semakin sadar akan pentingnya Bahasa. Bagaimana mungkin kita bisa membangun komunikasi yang baik jika kita tak saling mengerti maksud, yang ada hanyalah kesalahpahaman, berburuk sangka, yang pada gilirannya bisa berujung pada perpecahan.. Mungkin kita hanya perlu belajar lagi bagaimana caranya agar bisa berkomunikasi dari hati ke hati..

Ini lagi ngebahas (sambil nertawain) kejadian sebelumnya.. sebelum nyampe sini..

Mengesampingkan sisi lain beberapa budaya di Istanbul yang terkesan buruk, tetap saja, saya telah jatuh cinta dengan kota ini, bahkan sejak pertama kali menginjakkan kaki disini, di negara Transkonstinental yang sangat kaya sejarah bagi peradaban islam ini. 

Rabu, 18 Agustus 2021 
Ditulis di Istanbul (Pukul 20:19 waktu Istanbul), sambil dengerin dalam keadaan dag dig dug karena lagi flu sementara seminggu lagi mau flying back to the Netherlands (wkwkwk), tadi pagi sih udah self test dan hasilnya satu garis.. Yaa meski gitu tetap khawatirlah...





Hampir di penghujung summer break 2021, barulah saya memutuskan untuk memberi reward kepada diri sendiri yang sudah mau berjuang selama 6 bulan terakhir, terlebih terus "mewajibkan diri" berkutat dengan materi kuliah sebelumnya bahkan hingga menjelang akhir periode summer ini. Disaat yang lain tengah menikmati liburannya, kamu tetap memilih tidak tergoda. Congratulation! Turki is waiting for you!

****

Jangan tanya lagi debaran perasaan pagi ini. Rasa dag dig dug serr yang berubah menjadi panik setelah mengejar penerbangan Schipol Amsterdam – Turkey di 20 menit terakhir dari counter security check menuju gate keberangkatan. Membuat kita berada  diujung kepasrahan. Pasrah, jika belum berjodoh dengan penerbangan ke Turki hari ini. “Oke baik, jika Allah memang menakdirkan kita untuk bisa berangkat.. pasti gabakal ditinggalin pesawatnya.. Bismillaahh..”

20 menit lagi jadwal keberangkatan. Sementara, kami (saya, Mba Aginta dan Mba Nur) masih berada pada antrian pemeriksaan bagasi. Sementara, di detik-detik terakhir tersebut kopor milik saya masih harus dibongkar karena petugas mencurigai ada barang aneh didalam koper saya. Katanya mereka harus cek dulu. Yaa terjadilah, bongkar membongkar barang (lagi) ditengah antrian tersebut. Yaa bongkar lagi setelah sudah ada drama bongkar barang di kereta gegara ga bisa bawa lebih dari satu barang bawaan … Meski pada akhirnya petugasnya cuma bilang “Okey, you can go now!”.. Melihat saya yang terburu-buru menutup kembali koper yang butuh teknik khusus menguncinya itu (dan masih gabisa deal with perasaan panik juga sih sebenarnya wkwkwk), si petugasnya bilang lagi “take your time!”. Dalam hati berkata “gimana mau santai orang pesawatnya udah boarding dari tadi dan bentar lagi berangkat..”.

Sekarang bagasi sudah aman. Namun, drama belum berakhir, malah makin mendebarkan. Kami harus kembali mengantri di bagian pemeriksaan berikutnya. Antrian sangat panjang mengular. Mungkin jika kami mengikuti rute sebenarnya, barangkali akan membutuhkan waktu sekitar minimal 30 menit lagi untuk bisa sampai di counter pemeriksaan. Disini residence permit dan paspor di periksa dan di beri stempel. Untung saja, setelah menjelaskan panjang lebar ke petugasnya, akhirnya kami diberi izin untuk langsung menyelinap masuk pada antrian terdepan. Alhamdulillahnya semua Kembali berjalan lancar..

Apakah drama sudah selesai? Belum. kami masih harus beralri menuju gate E5 yang pun masih meraba-raba lokasinya. Kami hanya mencoba mengikuti direction yan ada. Tiba-tiba  tenaga saya terasa menjadi berlipat-lipat  (meski masih ngos-ngosan jugaa wkwkwk) mengangkat kopor menuruni tangga. Lalu, Kembali berlari dengan napas terengah-engah Bersama si koper light tosca menuju gate keberangkatan.

Ternyata, Allah hanya sedang nguji sampai mana upaya kita bahkan disaat kita yakin bahwa apa yang kita upayakan impossible. Yess, that`s right.. Pesawatnya delay!...  Kami, duduk ngemper di dekat walking band escalator di gate keberangkatan.

Setelah 3 jam penerbangan, finally.. I am coming Turkey!


Ditulis dalam penerbangan menuju Istanbul dari Schipol Amsterdam, di seat 21F.

Pukul 16.53 CEST – 29OC

Sejak kuliah di bangku S1, saya sudah bercita-cita agar bisa melanjutkan studi S2 di luar negeri. Saya merawat mimpi itu dengan baik, memupuk harapan sembari memaksimalkan ikhtiar tanpa melupakan tawakal kepada Allah meski awalnya mimpi itu sempat memudar. Bukankah sebaik-sebaik rencana adalah yang melibatkan Allah di dalam pencapaiannya?

Negara impian yang ingin saya jadikan sebagai tempat studi waktu itu adalah Jepang. Saya begitu jatuh cinta dengan negara ini karena anime Doraemon yang selalu menampilkan tentang Jepang.. Saya jatuh cinta dengan teknologinya, tata kotanya. budayanya, dan juga sakuranya (lebay yah? wkwkwk). Selain karena Jepang terkenal dengan kampus terbaik di bidang sains yang menjadi motivasi utama saya waktu itu, hal lain yang ingin saya lakukan adalah menyaksikan sakura bermekaran di negeri yang notabene memiliki julukan  negeri sakura ini. Iya, juga ke Jepang pengen ngeliat sakura.. "Pasti akan sangat menyenangkan" pikirku waktu itu..

Semua berkas pendaftaran beasiswa pun ku persiapkan buat aplikasi ke Jepang, mulai dari rencana studi, proposal studi, persiapan mental untuk menghadapi "culture shock", membaca berbagai artikel tentang sistem pendidikan, dsb.. Intinya, semua tentang Jepang, dengan harapan bisa menjamah sakura secepatnya.. 

Rupanya, belum berjodoh dengan Jepang. Benar saja bahwa Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia dengan mudah. Saya merubah negara tujuan di detik-detik terakhir penutupan pendaftaran beasiswa, sekitar seminggu sebelum penutupan. Keputusan yang cukup beresiko. Gimana enggak? Dalam waktu singkat tersebut saya harus merubah kampus dan rencana studi, dari yang sebelumnya tentang Jepang menjadi Belanda dan tetap memastikan persuativitasnya.. Yaa, harus kembali melakukan riset kampus dan negara tujuan..

Lah kenapa pindah? Waktu itu, saya secara tidak sengaja membaca sebuah artikel (tapi lupa artikelnya tentang apa :D, saking banyaknya hal-hal yang menarik saya temui seiring berjalannya waktu) yang membuat saya menjadi sangat tertarik dengan lingkungan, dan ingin fokus studi ke lingkungan. Saya berpikir bahwa mumpung belum submit aplikasi yasudah kenapa tidak mencoba memaksimalkan waktu yang ada. Saya menjatuhkan pilihan pada Belanda akhirnya, karena kampus pilihan saya sangat unggul dalam ilmu lingkungan, urutan #6 Worldwide, dan menjadi Universitas #1 di Belanda selama belasan tahun berturut-turut..

Alhamdulillah.. Allah beri kelancaran dalam setiap proses aplikasi beasiswanya dan kemudahan hingga touch down di Belanda..  Memang saya telah jatuh cinta dengan Jepang, tapi menjatuhkan pilihan pada Belanda karena emang ada hal-hal yang hanya bisa dimengerti oleh naluri.. Lalu, bagaimana dengan sakura? Yang ada hanyalah penerimaan, sakura tidak semenarik dulu lagi.. 

Saya tak berpikir bisa menemui sakura di Belanda meski ternyata ada sakura disinii... MaasyaAllah... Finally ketemu sakura, meski bukan di Jepang tapi di belahan bumi Belanda...



Lagu "Mogita Ilimu" (tapi sering nemu yang tulisannya "Magita", tapi menurutku benarnya adalah Mogita biar lebih make sense) ini adalah lagu yang menurutku maknanya deep karena sangat relate dengan pengalaman pribadi 😂. Yap, Ini menceritakan tentang kerinduan seorang pelajar yang tengah menuntut ilmu di kampung orang dan jauh dari keluarga.. Pasti pernah tau kan rasanya rindu ke orang tua, keluarga, teman dsb..? ... Kurang lebih isinya seperti itu. Silahkan baca lirik lengkap beserta artinya di bawah😁.. Mau dengan lagunya? Klik disini !.



Motiuma dei lipu tau satau mogita ilimu susumbolran..

Merantau ke negeri sebrang untuk menuntut ilmu demi hidup yang lebih baik..


Mosumbo dei lipu tau satau geiga dello dei lipu batangan..

Hidup di negeri orang tak seperti di kampung halaman..


Mokkoosaan palraian lipu batangan, mo ondong pondam dei kina..

Semakin lama meninggalkan kampung halaman, hati rasanya begitu sedih,


Nitiangan poni lengan tegalrang kina dei tau dako, usat, singgayan..

Ditambah lagi dengan perasaan rindu mendalam kepada orang tua, saudara dan teman..


Mosumbo dei lipu tau geiga ku kotoi songgulra osana..

Aku tak tahu seberapa lama akan berada di perantauan..


Geiga kukotoi pilan mangambulring dei lipu batangan..

Ku tak tahu kapan akan kembali ke kampung halamanku..


Mokkoosaan mosumbo dei lipu tau

Semakin lama tinggal di negeri orang..


Mo ondong ai tegalrangku, dodoua makko ai malrlrambangan..

Perasaan sedih dan rindu, keduanya telah bercampur aduk...


Ondong inang ondong kinaa.. o kaasi..

Sedih, sungguh perasaan ini sangat sedih..


*Disclaimer :

Ini diterjemahkan berdasarkan pengetahuan saya pribadi sebagai salah satu (agak) native speaker Bahasa Tolitoli 🙋.. Sengaja tulis ini karna rasanya sekarang masih agak sulit menemukan lirik lagu-lagu daerah Tolitoli (apalagi beserta artinya) di dunia per-google-an.. Oiya, saya sangat terbuka dengan saran dan kritik teman-teman yang mungkin sedikit banyak lebih paham dengan Bahasa Tolitoli atau "Tinga Totolri" ini.  Yuk yuk, kita lestarikan Bahasa Tolitoli kita ini...


Selamat membaca!



Nah, lagu ini adalah salah satu lagu fenomenal kota Tolitoli karena sering dinyanyikan dalam acara-acara kedaerahan, pun sering juga diperkenalkan di sekolah. Lagu Mars Patriot Baolan ini adalah lagu ciptaan Morel Metahang dan Jacob Ladwan yang menceritakan tentang kekayaan alam Tolitoli. Dengarkan lagunya disini. Berikut lirik dan artinya :


Lutungan Kabetan Simatang Dei  Leok Dondo

Lutungan Kabetan Simatang di teluk Dondo.. 

 

Lakuaan ampii utara, anggad Dampaa, Ogoamas, Kombo

Lakuan di sebelah utara membujur ke Selatan, Dampal Ogoamas Kombo, 


Takudan,Sanjangan, Tatanggalro, Seo 

Gunung Takudan, Gunung Sanjangan, Gunung Tanggalro, Gunung Seo


Niug, damag, uwe, kekeaan butaku

Nyiur, damar, rotan, adalah simbol kekayaan tanahku

 

Anamo ssaakan nabalri paton lipuku.

Semua itu merupakan simbol kekayaan daerahku.


Dei sasik dongnamo..

Biarkanlah mayatku berapungan di lautan.

 

Dei gumpun tenggeamanmo..

Di hutan biarlah tulang belulangku berserakan..

 

Dengitu aku mau ingga kolobong..

Biarlah nisanku tidak bernama..

 

Lombut ompasku, batu lunanku..

Lumut menjadi tikarku, batu menjadi bantalku..

 

Dongnamo.. dongnamo..

Biarlah  biarlah..


Sabaab butaku..

Demi daerah dan tanah airku..


*Disclaimer :

Ini diterjemahkan berdasarkan pengetahuan saya pribadi sebagai salah satu (agak) native speaker Bahasa Tolitoli 🙋.. Sengaja tulis ini karna rasanya sekarang masih agak sulit menemukan lirik lagu-lagu daerah Tolitoli (apalagi beserta artinya) di dunia per-google-an.. Oiya, saya sangat terbuka dengan saran dan kritik teman-teman yang mungkin sedikit banyak lebih paham dengan Bahasa Tolitoli atau "Tinga Totolri" ini. Yaps, saya sadar ada beberapa kata yang masih meragukan.. Yuk yuk, kita lestarikan Bahasa Tolitoli kita ini...


Cheers,

Rukmana Suharta

(Wageningen, the Netherlands - 10.50 CEST - 05/07/21)


Lagu-lagu daerah Tolitoli cukup banyak yang menceritakan kerinduan seorang perantau terhadap kampung halamannya, termasuk lagu Makalrambot Lipu ini. Berdasarkan pemahaman saya, lagu ini menceritakan tentang perjalanan seseorang yang akan pulang kampung, dengan jalur laut, dimana dalam perjalanannya Ia sangat excited dan tak sabar untuk segera sampai.. Perasaannya pun semakin menggebu-gebu ketika pulau-pulau mulai tampak dari kejauhan.. Klik disini kalo mau dengar lagunya.


Noosamo iyaku dei lipu tau..

Telah lama aku di perantauan..

Ondong ateku makalrambot lipuku..

Hatiku terlampau sedih mengingat kampung halamanku..


Geimo doua tegalrangku iya..

Rinduku ini tak ada duanya lagi..

Bangga pombulri, moniat iyaku moburi..

Kapal di belakang, aku berniat pulang..


Dei salra mata, bukiina moita..

Di kelopak mata, pegunungannya terlihat..


Dei tonga balrangan titiuma labuan..

Di tengah lautan menuju pelabuhan..


Geiga noosa, napasatmo libutan na..

Tak berselang lama, pulau-pulaunya mulai terlihat..


Meseo ateku, saasabaa makasambemo..

Hatiku mulai tak sabar, berharap segera sampai..


Injan Bangga nokouma dei labuan

Saat kapal tiba di pelabuhan..

Ondong, tegalrang, sanang, ege sumasampulran

Perasaan sedih-haru, riindu, bahagia telah menjadi satu..


Kassaanang ateku nakasambe poni lipuku..

Hatiku bahagia karena telah kembali lagi ke kampung halamanku


Lipu totolri, l
ipu ni kadakoanku..

Tolitoli, tempat dimana aku dibesarkan,

Lipu totolri, lipuku ku kosuai

Tolitoli, kampung halaman yang kusayangi..


*Disclaimer :

Ini diterjemahkan berdasarkan pengetahuan saya pribadi sebagai salah satu (agak) native speaker Bahasa Tolitoli 🙋.. Sengaja tulis ini karna rasanya sekarang masih agak sulit menemukan lirik lagu-lagu daerah Tolitoli (apalagi beserta artinya) di dunia per-google-an.. Oiya, saya sangat terbuka dengan saran dan kritik teman-teman yang mungkin sedikit banyak lebih paham dengan Bahasa Tolitoli atau "Tinga Totolri" ini.  Yuk yuk, kita lestarikan Bahasa Tolitoli kita ini...


Cheers,

Rukmana Suharta

(Wageningen, the Netherlands - 11.30 CEST - 05/07/21)

Newer Posts Older Posts Home

WELCOME ABOARD!

I could look back at my life and get a good story out of it. It's a picture of somebody trying to figure things out.

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Makalrambot Lipu (Teringat Kampung Halaman)
    Lagu-lagu daerah Tolitoli cukup banyak yang menceritakan kerinduan seorang perantau terhadap kampung halamannya, termasuk lagu Makalrambot L...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Tinga Kinaaku (Suara hatiku)
    Naah, ini adalah salah satu lagu yang sangat terkenal juga di Tolitoli. Judulnya adalah " Tinga Kinaaku" , atau bisa diartikan seb...
  • LAGU DAERAH TOLITOLI DAN ARTINYA - Lutungan (Patriot Baolan)
    Nah, lagu ini adalah salah satu lagu fenomenal kota Tolitoli karena sering dinyanyikan dalam acara-acara kedaerahan, pun sering juga diperke...
  • Sebenarnya, Apa Alasan Kita Memilih Menjadi Relawan ?
    Menjadi Relawan atau Volunteer adalah sebuah pilihan. Pilihan bagi orang-orang terpilih. Pilihan bagi orang yang mau dan memberanikan...
  • CERITA LPDP : Jadi, sebenarnya begini...
    Pada hari itu, Selasa, 14 Agustus 2019, hanya ada perasaan sangat puas ketika keluar dari ruang wawancara 1 yang kata kebanyakan orang...
  • Anak adalah Perekam Hebat
    Sudah seminggu lebih keberadaanku di rumah, di kampung halaman, kampung halamanku yang sesungguhnya. Aku tahu betul kalau  selama ini kebany...
  • KAOS KAKI IDENTITAS
            H 28 Ramadhan 1436 H, tempat aku dan teman magang sudah memasuki waktu libur. Pagi itu kami pergi ke sebuah pasar tradisional y...
  • RENCANA HATI
    Aku bahagia di jalan ini.. Jejaki kehidupan setia dengan proses.. Meski kutahu sempurna bukan milikku.. Yah, aku hanya menjejaki pros...
  • Tujuh Hari Menuju Belanda
    Merencanakan banyak hal di masa yang hampir segalanya tak terprediksi bukanlah hal mudah. Niat akan teruji karena ketidakpastian yang memben...
  • LUAR NEGERI ITU PALU
          Sebuah pengalaman tak terlupakan hidup selama 3 hari di sebuah pulau nun terpencil di sebuah pulau di daerah kabupaten Tolitoli Sulaw...

Categories

Beasiswa 6 Catatan 40 Cerita Saya 37 English Article 2 Kampung Inggris Pare 15 Pojok Umum 33 Refleksi 24 Tentang Toli-toli 8

Blog Archive

  • ▼  2026 (1)
    • ▼  January (1)
      • Bayangan Rasa
  • ►  2025 (5)
    • ►  December (2)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
  • ►  2024 (3)
    • ►  May (3)
  • ►  2023 (1)
    • ►  August (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2021 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  August (7)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  February (2)
  • ►  2020 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  September (2)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2019 (11)
    • ►  December (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2018 (31)
    • ►  December (3)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (4)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  March (6)
    • ►  February (2)
    • ►  January (4)
  • ►  2017 (30)
    • ►  November (2)
    • ►  October (5)
    • ►  September (4)
    • ►  August (4)
    • ►  July (3)
    • ►  May (3)
    • ►  April (4)
    • ►  March (5)
  • ►  2016 (16)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (3)
    • ►  June (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (4)
  • ►  2015 (24)
    • ►  December (2)
    • ►  October (2)
    • ►  August (2)
    • ►  July (10)
    • ►  June (3)
    • ►  April (3)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  August (1)

Total Pageviews

Contact Form

Name

Email *

Message *

Featured Post

Memaafkan atau dimaafkan bukanlah perihal mana yang lebih baik. Keduanya adalah dua hal yang sama-sama membutuhkan keikhlasan. Kita dilatih ...

rukmana.rs

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates