Saya termasuk orang yang sangat jarang mengunggah foto makanan atau aktivitas makan bersama. Jikapun ada foto yang tersimpan di galeri, hampir bisa dipastikan tidak akan pernah saya publikasikan di sosial media. Mungkin ada, tapi akan sangat jarang dan lebih banyak di platform lainnya yang menurut saya lebih pas saja. Bukan karena saya tidak menghargai momen makan atau tidak peduli dengan foto-foto makanan yang ciamik itu, melainkan karena ada cerita panjang di balik setiap piring yang pernah hadir dalam hidup saya.
Dulu, saya pernah berada di fase hidup yang sulit. Membeli makanan bukan sekadar soal selera, melainkan soal perhitungan yang penuh pertimbangan. Mode bertahan hidup benar-benar teraktivasi. Saya memilih makanan bukan dari rasanya, bukan dari tampilannya, melainkan dari harganya. Mata saya selalu perlu lebih dulu mencari angka, sesaat kemudian barulah menimbang menunya. Setiap rupiah terasa seperti keputusan besar, dan setiap suapan adalah hasil dari perjuangan panjang. Tentu saja, tidak semua orang seperti ini.
Itulah sebabnya, ketika melihat orang lain memosting foto makanan mereka, makanan yang tampak lezat, penuh warna, dan menggoda, saya sering merasa seolah ada jarak yang tak terlihat. Normalnya manusia, saya tentu ingin mencicipinya juga. Saya ingin tahu rasanya. Namun kenyataannya, saya tidak bisa. Yang tersisa hanyalah bayangan. Bayangan makanan yang hadir begitu nyata, tapi tak pernah benar-benar bisa dicicipi. Foto makanan memang punya daya. Ia membuat orang ingin. Tetapi bagi sebagian orang, foto itu juga bisa menjadi pengingat akan keterbatasan. Ada rasa sesak yang muncul ketika keinginan tidak bisa diwujudkan.
Tak hanya itu, saya juga menyadari bahwa bukan hanya saya yang merasakan hal itu. Di luar sana, ada bejibun nyawa yang tengah kelaparan dan berjuang bertahan hidup. Ada yang sedang berjuang keras untuk sekadar makan sekali sehari. Ada yang bahkan harus menahan lapar karena tidak ada pilihan lain. Bagi mereka, foto makanan bisa menjadi luka kecil yang tak terlihat, mengingatkan pada jurang antara keinginan dan kenyataan. Karena itu, saya memilih untuk tidak/mengurangi memosting foto makanan di sosial media. Saya belum sepenuhnya menerapkan ini, karena beberapa kali masih melakukannya juga. Masih dalam proses belajar.
Saya tidak mempermasalahkan orang lain yang melakukannya. Setiap punya hak masing-masing, dan saya yakin tidak tidak terselip sedikit pun niat buruk di balik itu. Mereka punya tujuan jelas yang masuk akal, entah untuk keperluan bisnis, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih, menyimpan memori, menghibur diri mereka atau hanya sekadar ingin berbagi kebahagiaan sederhana. Namun, bagi saya pribadi, jika ada pilihan untuk tidak melakukannya, yaa kenapa tidak? Ini perihal pilihan dan nilai yang kita genggam.
Kita mungkin ingin berbagi makanan yang gambarnya kita post tersebut, misalnya melalui story WhatsApp, dengan orang terdekat kita tetapi tidak semua situasi dan kondisi mendukung. Bisa jadi, kita dipisahkan oleh bentangan jarak yang panjang, waktu-waktu yang terbatas untuk menyambangi, atau kita hanya memiliki makanan yang bahkan mungkin untuk kita sendiri pun masih kurang, dan kondisi lainnya. Kondisi seperti ini bisa menimbulkan rasa yang berlapis. Antara keinginan untuk berbagi kebahagiaan dan kesadaran bahwa ada keterbatasan yang nyata. Parahnya, mungkin ini akan berujung pada kita yang seolah menzalimi orang lain.
Bagi saya, makanan bukan sekadar objek visual. Makanan adalah simbol perjalanan, simbol perjuangan, simbol syukur. Setiap piring yang kini bisa saya nikmati dengan lebih tenang adalah tanda bahwa saya pernah melewati masa di mana makan makanan tertentu sesuai keinginan saya adalah kemewahan. Dan saya ingin menghormati makna itu dengan cara saya sendiri.
Ketika saya ingin, artinya saya harus memastikan bahwa apa yang saya bagikan tidak "melukai" banyak orang. Ada banyak hal yang perlu dikurasi. Timing dan platform pun harus diperhatikan.
Memang, lagi-lagi kita tak bisa bertanggung jawab sepenuhnya dengan orang lain. Tapi, untuk beberapa hal, jika ada hal yang bisa kita kurangi, yaa kenapa tidak?.

